Senin, 25 Apr 2022 11:05 WIB

Pengguna Sinovac Boleh Happy! Ada Kabar Baik Bagi yang Di-booster Pfizer-AZ

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Petugas kesehatan dari kepolisiam memberikan vaksin booster kepada warga di kawasan Pasar Induk Kramat Jati,  Rabu (6/4). Ilustrasi vaksin COVID-19 booster. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Studi baru di Chili yang diterbitkan The Lancet menunjukkan pemberian vaksin COVID-19 booster heterolog pada pengguna Sinovac menghasilkan imunitas atau 'kekebalan' lebih tinggi dibandingkan homolog. Artinya, mereka yang menerima dua dosis primer vaksin Sinovac lebih baik melanjutkan suntikan booster dengan jenis berbeda, alih-alih kembali divaksinasi Sinovac.

Dikutip dari News Medical, riset ini dilakukan sejumlah ahli dari Institute of Science and Innovation in Medicine, Clinica Alemana Universidad del Desarrollo, hingga Kementerian Kesehatan Chili.

Para pakar menganalisis efektivitas vaksin COVID-19 booster yang diberikan secara heterolog pada pengguna Sinovac memakai AZD1222 (Oxford-AstraZeneca) dan BNT162b2 (Pfizer-BioNTech). Ada 11.174.257 warga Chili mengikuti penelitian ini, 4.127.546 di antaranya menyelesaikan jadwal imunisasi primer (dua dosis) dengan CoronaVac dan menerima dosis booster selama masa studi.

Hasil Riset

Ada 1.921.340 peserta menerima vaksin booster AstraZeneca. Sementara 2.019.260 (48,9 persen di antaranya) menerima vaksin COVID-19 Pfizer BNT162b2 dan 186.946 menerima vaksin booster homolog dengan CoronaVac.

Hasil studi menunjukkan efektivitas vaksin COVID-19 dalam mencegah gejala pada mereka yang menerima booster homolog Sinovac hanya 79 persen. Sementara penerima booster Pfizer melaporkan efektivitas lebih tinggi yakni 97 persen dan AstraZenec 93 persen.

Begitu juga dengan angka kematian COVID-19, kasus rawat inap dan ICU, penerima booster homolog tetap memiliki angka efektivitas lebih rendah dibandingkan penerima booster heterolog:

1. Penerima vaksin booster Pfizer:

  • Mencegah kasus rawat inap: 96 persen
  • Mencegah masuk ICU: 96 persen
  • Mencegah kematian: 97 persen

2. Penerima vaksin booster AstraZeneca:

  • Mencegah kasus rawat inap: 98 persen
  • Mencegah masuk ICU: 99 persen
  • Mencegah kematian: 98 persen

3. Penerima vaksin booster Sinovac:

  • Mencegah kasus rawat inap: 86 persen
  • Mencegah masuk ICU: 92 persen
  • Mencegah kematian: 87 persen

"Hasil kami menunjukkan bahwa dosis ketiga vaksin Sinovac (Coronavac) atau menggunakan vaksin booster yang berbeda seperti vaksin Pfrizer-BioNTech dan Astra Zeneca pada pengguna vaksin primer Sinovac, sama-sama memberikan perlindungan tingkat tinggi terhadap COVID-19, termasuk penyakit parah dan kematian," beber para peneliti.

"Namun, menerima vaksin booster berbeda dengan vaksin primer menghasilkan efektivitas vaksin lebih tinggi daripada kembali disuntik vaksin Sinovac (Coronavac) untuk dosis ketiga, baik dalam mencegah rawat inap hingga kematian," tandas mereka.

Saksikan juga e-Life: Puasa, Remaja, dan Eating Disorder

[Gambas:Video 20detik]



(naf/up)