ADVERTISEMENT

Rabu, 27 Apr 2022 03:32 WIB

Round up

Pakar Sebut Suramnya COVID-19 di China Imbas Tak Punya Modal Imunitas

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Residents stand on a street waiting for nucleic acid test during lockdown amid the coronavirus disease (COVID-19) pandemic, in Shanghai, China, April 17, 2022. REUTERS/Aly Song Foto: REUTERS/ALY SONG
Jakarta -

Setelah sebelumnya dianggap mampu menghadapi pandemi COVID-19, saat ini China babak belur dihantam varian Omicron. Rekor kasus baru dan kematian berturut-turut dilaporkan dengan pemerintah menerapkan strategi penguncian wilayah.

Pemerintah China menerapkan lockdown di Shanghai yang membuat warga teriak frustasi karena sudah mulai kekurangan makanan. Strategi zero COVID yang diterapkan China juga sudah mulai terasa di Beijing, membuat warga mulai memborong makanan.

Menurut analisis panel ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk COVID-19, China tak memiliki modal imunitas karena adanya strategi zero COVID-19. Menurutnya, strategi zero COVID-19 terlihat hanya efektif di awal-awal tahun kemunculan SARS-CoV-2.

"Yang efektif sejauh ini menjadi proteksi adalah vaksin messenger RNA, meskipun yang lain tetap memberikan perlindungan, tetapi di China jenis vaksin ini kan terbatas sekali," tutur epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman.

Strategi zero COVID yang diterapkan China dinilai membuat warga tidak memiliki imunitas ganda dan jenis vaksin yang digunakan tidak secara signifikan mampu melawan varian Omicron.

"Penduduknya karena menerapkan zero COVID-19, itu yang terpapar virus ini masih sedikit sekali, padahal kita tau orang yang sudah divaksin Sinovac dua kali kemudian terinfeksi, dia seperti mendapat booster penguat imunitas walaupun itu tidak boleh jadi strategi," beber dia.

Selengkapnya bisa dibaca DI SINI



Simak Video "Resor di China Lockdown, 80 Ribu Turis Terjebak"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT