Imbas Lockdown di Shanghai: Makan Sekali Sehari, Beli Daging Pun Sudah Busuk

ADVERTISEMENT

Imbas Lockdown di Shanghai: Makan Sekali Sehari, Beli Daging Pun Sudah Busuk

Vidya Pinandhita - detikHealth
Selasa, 26 Apr 2022 12:01 WIB
Police officers in protective suits keep watch at an entrance to a tunnel leading to the Pudong area across the Huangpu river, after traffic restrictions amid the lockdown to contain the spread of the coronavirus disease (COVID-19) in Shanghai, China March 28, 2022. REUTERS/Aly Song
Foto: REUTERS/Aly Song
Jakarta -

Shanghai kini memasuki pekan kelima penguncian (lockdown) sebagai menghadapi lonjakan kasus COVID-19. Seiring itu, sejumlah warga membagikan kisah pilu mencari makan seiring diterapkannya penguncian.

Mengingat menurut peraturan pemerintah, warga harus meminta makanan dan air, serta menunggu pemerintah China untuk mengirimkan stok sayuran, daging, dan telur. Akan tetapi, kini peningkatan lockdown telah berimbas pada layanan pengiriman, platform internet, toko kelontong, hingga distribusi pasokan resmi.

"Saya membayar 400 yuan (Rp883.000) untuk dua daging babi busuk," ujar Will Liu (28), seorang penduduk Shanghai yang sudah bertempat tinggal selama hampir tujuh tahun, dikutip dari American Journal, Selasa (26/4/2022). Ia membeli makanan secara online lantaran dirinya kelaparan selama pekan kedua lockdown.

Hanya Bisa Makan Sekali Sehari

Will mengisahkan, dirinya sudah menyimpan cukup makanan selama lima hari. Akan tetapi lantaran durasi lockdown diperpanjang lebih lama dibanding yang awalnya diumumkan di Beijing, ia kehabisan stok makanan.

"Pihak berwenang terus memperpanjang jangka waktu penutupan lima hari semula untuk membuatnya semakin lama. Kehidupan setiap orang telah terbalik", beber Will.

"Pada minggu kedua penguncian, saya menemukan situs web takeaway yang mengiklankan 'daging babi seharga 400 yuan (Rp883.000). Saya kelaparan, jadi saya memesan. Tapi satu-satunya yang saya terima adalah dua potong daging busuk. Saya berhasil mendapatkan uang saya kembali, tetapi merasa sangat dirugikan oleh semuanya," kata Will lebih lanjut.

Lebih lanjut Will mengisahkan, dirinya kesulitan lantaran kulkas di rumahnya bermasalah sehingga sayur-sayuran harus disimpan di luar dan bisa membusuk. Beruntung, ia menerima bantuan dari teman-teman di luar Shanghai untuk mengatasi kekurangan pangan.

"Teman-teman saya dan saya telah menerima bantuan dari teman-teman di luar Shanghai untuk mengatasi kekurangan pangan. Saat ini, Kami hanya makan satu kali sehari," pungkasnya.



Simak Video "Bantahan China soal Tudingan Tidak Transparan Terkait Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT