Kamis, 28 Apr 2022 06:10 WIB

Kasus Menurun Drastis, WHO Sebut Dunia Justru Semakin 'Buta' soal COVID-19

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pemerintah Ukraina membatasi aktivitas warga dan gencarkan vaksinasi di tengah lonjakan kasus COVID-19 di Eropa. Keputusan itu ditentang oleh sejumlah warganya. Foto: AP Photo/Efrem Lukatsky
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan penurunan dramatis testing COVID-19 telah membuat dunia 'buta' terhadap amukan virus yang masih berlanjut, serta mutasi virus Corona berbahaya yang masih berpotensi timbul.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut, kasus dan kematian COVID-19 di dunia memang terpantau menurun drastis. Akan tetapi, jumlah kasus yang menurun bisa disebabkan berkurangnya testing COVID-19.

"Minggu lalu, lebih dari 15 ribu kematian dilaporkan ke WHO, total mingguan terendah sejak Maret 2020," ujarnya, dikutip dari The Straits Times, Rabu (27/4/2022).

"Ini membuat kita semakin buta terhadap pola penularan dan evolusi," imbuh Tedros.

Hal serupa disampaikan oleh William Rodriguez yang mengepalai aliansi diagnostik global FIND. Menurutnya dalam empat bulan terakhir, tingkat pengujian COVID-19 anjlok sebesar 70 hingga 90 persen. Padahal, kasus COVID-19 tengah melonjak akibat gelombang varian Omicron.

"Hari ini karena (penurunan) testing COVID-19 telah menjadi imbas pertama dari keputusan global dan bisa menurunkan kewaspadaan kami, kami menjadi buta terhadap apa yang kini terjadi dengan virus ini (Corona)," beber Rodriguez.

Corona Belum Hilang

Mengingat, pandemi COVID-19 telah menyebabkan lebih dari enam juta kematian sejak virus pertama kali muncul di China pada akhir 2019. Namun, jumlah korban sebenarnya diyakini tiga kali lebih tinggi dibanding angka yang terlapor.

Melihat sejumlah negara telah menghapus langkah-langkah pencegahan COVID-19, WHO kembali menegaskan bahwa pandemi belum berakhir.

"Virus ini tidak akan hilang hanya karena negara-negara berhenti mencarinya," kata Tedros. Ia menegaskan, virus Corona masih menyebar, berubah-ubah, dan membunuh. Terlebih, ancaman kemunculan varian baru yang lebih berbahaya pun sangat nyata.

"Meskipun kematian menurun, kami masih belum memahami konsekuensi jangka panjang dari infeksi (COVID-19 pada mereka yang bertahan hidup," pungkasnya.



Simak Video "Apakah Mungkin Cacar Monyet Jadi Pandemi Selanjutnya?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)