Kamis, 28 Apr 2022 14:47 WIB

OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder: Gejala, Penyebab, dan Cara Pengobatannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ilustrasi takut Mengenal OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder. (Foto ilustrasi: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

OCD atau Obsessive-compulsive disorder merupakan pola pikiran dan ketakutan yang tidak diinginkan (obsesi), yang membuat seseorang melakukan perilaku berulang (kompulsi). Obsesi dan kompulsi ini mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan penderitaan yang signifikan.

OCD adalah kondisi yang bisa berbahaya jika diabaikan, karena bisa meningkatkan tekanan dan kecemasan seseorang. Pada akhirnya, orang itu akan merasa terdorong untuk melakukan tindakan kompulsif untuk mencoba meredakan stres.

Meski upaya untuk mengabaikan dan menyingkirkan pikiran atau dorongan dilakukan, itu akan terus datang lagi.

Penyebab OCD

Penyebab OCD atau gangguan obsesif-kompulsif ini masih belum sepenuhnya dipahami. Dikutip dari Mayo Clinic, ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penyebab OCD yakni:

Biologi: Kondisi OCD ini mungkin merupakan hasil dari perubahan kimia alami tubuh atau fungsi otak.

Genetik: OCD ini mungkin memiliki komponen genetik, tapi gen spesifiknya belum diidentifikasi.

Mempelajari (learning): Ketakutan obsesif dan perilaku kompulsif bisa dipelajari dari melihat anggota keluarga atau secara bertahap dipelajari dari waktu ke waktu.

Faktor Risiko OCD

Adapun beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan atau memicu OCD ini, meliputi:

Keluarga

Jika memiliki anggota keluarga dengan gangguan OCD ini, bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama.

Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan

Jika pernah mengalami peristiwa traumatis atau stres, risiko seseorang mengalami OCD bisa meningkat. Kondisi ini, di beberapa kondisi, bisa memicu pikiran yang mengganggu dan tekanan emosional yang menjadi ciri dari OCD.

Gangguan kesehatan mental lainnya

Kondisi OCD ini mungkin berkaitan dengan gangguan kesehatan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, atau gangguan tic.

Gejala OCD

Gejala OCD biasanya akan mulai terlihat pada masa remaja atau dewasa muda, tetapi bisa juga terlihat saat kanak-kanak. Seiring bertambahnya usia, gejala dari OCD ini bisa cenderung memburuk. Selain memburuk, gejala OCD bisa semakin berat jika penderitanya mengalami stress.

Gejala OCD ini biasanya mencangkup obsesi dan kompulsi. Tetapi, kemungkinan juga bisa hanya memiliki gejala obsesi atau hanya gejala kompulsi. Berikut beberapa gejala yang umum dialami penderita OCD:

Gejala OCD Obsesi

  • Ketakutan terkontaminasi atau takut kotor, misalnya takut menyentuh benda yang sudah disentuh orang lain.
  • Ragu dan sulit menoleransi ketidakpastian, misalnya ragu telah mengunci pintu atau mematikan kompor.
  • Segala sesuatu harus teratur bahkan simetris, misalnya stres atau kesal saat benda berantakan.
  • Pikiran agresif yang ingin melukai diri sendiri atau orang lain, misalnya ingin menabrakan mobil ke arah orang lain.
  • Pikiran atau agresi, misalnya ingin berkata-kata kotor di depan orang lain.
  • Menghindari sesuatu yang memicu obsesi, misalnya berjabat tangan dengan orang lain.

Gejala OCD Kompulsi

  • Mencuci dan membersihkan, misalnya selalu mencuci tangan karena takut kotor.
  • Memeriksa, misalnya selalu memeriksa apakah sudah mengunci pintu atau mematikan kompor.
  • Menghitung atau berkata, misalnya selalu menghitung dengan pola tertentu, mengulangi kata-kata, doa, atau, kalimat tertentu.
  • Mengatur, misalnya selalu mengatur barang dan menata agar selalu rapi dan teratur.

Pengobatan OCD

Tidak ada obat yang benar-benar bisa menghilangkan OCD. Tetapi, mungkin bisa melakukan perawatan menggunakan obat-obatan, terapi, atau kombinasi perawatan untuk mengelola gejala OCD yang bisa mempengaruhi hidup. Perawatannya meliputi:

Psikoterapi

Terapi perilaku kognitif bisa membantu mengubah pola berpikir. Dokter akan menempatkan pasien dalam situasi yang dirancang untuk menciptakan kecemasan atau memicu kompulsi. Dengan begitu, pasien akan belajar mengurangi dan selanjutnya menghentikan pikiran atau tindakan OCD.

Relaksasi

Ini dilakukan dengan hal-hal yang sederhana, seperti meditasi, yoga, dan pijat yang bisa membantu mengatasi gejala OCD yang membuat stres.

Obat-obatan

Kondisi ini juga bisa ditangani dengan mengkonsumsi obat psikiatri yang disebut selective serotonin reuptake inhibitors, yang bisa membantu banyak orang mengendalikan obsesi dan kompulsi.

Pasien mungkin membutuhkan waktu 2-4 bulan untuk mulai terlihat hasilnya. Obat-obat yang umum digunakan termasuk citalopram (Celexa), escitalopram (Lexapro), fluoxetine (Prozac), fluvoxamine, paroxetine (Paxli) dan sertraline (Zoloft). Jika masih memiliki gejala, dokter mungkin akan memberikan obat antipsikotik seperti aripiprazole (abilify) atau risperidone (Risperdal).

Neuromodulasi

Jika terapi dan pengobatan tidak memberikan hasil, dokter mungkin menyarankan untuk menggunakan perangkat yang akan mengubah aktivitas listrik di area tertentu di otak. Satu jenis stimulasi, stimulasi magnetik transkranial, sudah disetujui FDA untuk pengobatan OCD. Ini dilakukan dengan menggunakan medan magnet untuk merangsang sel-sel saraf.



Simak Video "Kenali dan Sikapi Pengidap OCD"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)