Sabtu, 30 Apr 2022 19:00 WIB

Viral Pria Onani di KRL, Termasuk Penyimpangan Seks Ekshibisionisme?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Eighteen plus, age limit, sign in neon style. Only for adults. Night bright neon sign, symbol 18 plus. Vector Illustration. Foto: Getty Images/iStockphoto/Soifer
Jakarta -

Seorang pria diduga melakukan onani atau mansturbasi di dalam kereta rel listrik (KRL) viral di media sosial. Diketahui, pria tersebut menggunakan hoodie berwarna oranye dan topi putih, tengah melakukan pornoaksi saat kondisi gerbong KRL terlihat cukup padat.

Aksi tak senonoh tersebut diduga direkam oleh penumpang lain yang duduk di depannya. Petugas keamanan di stasiun pun langsung mengamankan pria tersebut di stasiun Parung Panjang.

"Setelah kami lakukan koordinasi dan pengecekan, perihal tersebut sudah diamankan oleh petugas keamanan Stasiun Parung Panjang. Terima kasih atas informasi yang telah diberikan, kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya," demikian keterangan KAI Commuter melalui akun Twitter @CommuterLine, Sabtu (30/4/2022).

Aksi onani atau masturbasi di tempat umum ini bukan yang pertama kali terjadi. Psikolog Klinik Forensik, Kasandra Putranto, beberapa waktu lalu, sempat mengungkap perilaku semacam ini disebut sebagai gangguan penyimpangan seksual ekshibisionisme.

Ekshibisionisme sendiri merupakan salah satu dari gangguan penyimpangan seksual yang termasuk dalam klasifikasi paraphilia. Dengan kata lain, pelaku secara terus-menerus selalu berusaha untuk mencari kepuasan dengan cara menunjukkan alat kelamin atau melakukan masturbasi di depan umum atau di depan korban.

Kondisi seperti ini biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti paparan pornografi yang berlebihan, kurangnya pemahaman normal sosial yang mendorong pelaku melanggar norma sosial dan agama, dan sebagainya.

Apa yang harus dilakukan jika berada dalam situasi tersebut?

Kasandra menjelaskan, apa yang dicari dari pelaku dengan melakukan aksi pamer alat kelamin atau masturbasi (onani) di depan umum adalah untuk mendapatkan kepuasan dari melihat ekspresi korban yang ketakutan, kaget, dan malu.

Untuk itu, ia menyarankan korban untuk jangan diam terpaku atau kaget. Sebisa mungkin untuk menguasai emosi dan rasa takut, kemudian berikan reaksi seperti berlari atau berteriak.

"Apabila seseorang berada di dalam situasi tersebut harus bisa memberikan reaksi cepat karena yang mereka kejar itu ekspresi kaget, takut, malu, terhina dan sebagainya, yang biasanya korban itu freeze," tutur Kasandra dalam program eLife detikcom, Jumat (29/10/2021).

"Justru jangan sampai freeze karena begitu [pelaku] tahu ada gelagat, mereka akan melakukan seperti itu, harus bisa segera bertindak cepat, teriak, kemudian pergi atau lari, yang jelas jangan menampilkan ekspresi yang diharapkan," lanjutnya.



Simak Video "Konten Negatif Kok Cenderung Mudah Viral?"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)