Selasa, 03 Mei 2022 21:40 WIB

6 Fakta Gadis Bisa Jalan Lagi Usai Disuntik Vaksin Nusantara Terawan

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
Eks Menkes dr Terawan Agus Putranto hadiri rapat kerja bersama Komisi IX DPR. Ia turut pamerkan Vaksin Corona Nusantara yang disebut aman untuk digunakan warga. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Belakangan beredar sebuah video memperlihatkan seorang gadis berusia 13 tahun bernama Vanessa, mengunjungi Mantan Menteri Kesehatan Letnan Jenderal TNI (Purn.) dr Terawan Agus Putranto di RSPAD Gatot Soebroto.

Kunjungan tersebut dimaksud untuk mengucapkan terima kasih secara langsung setelah dirinya dinyatakan sembuh dan bisa kembali berjalan usai disuntik vaksin Nusantara. Vanessa diketahui merupakan salah satu penerima vaksin Nusantara.

"You are strong," kata dr Terawan pada gadis yang bernama Vanessa itu.

Dirangkum detikcom, berikut sederet fakta gadis penerima vaksin Nusantara yang bisa kembali berjalan.

Kondisi awal Vanessa

Berdasarkan informasi yang beredar, kondisi awal gadis 13 tahun itu dalam keadaan lemas dan tidak bisa berjalan usai dirawat di rumah sakit. Ia dan keluarganya kemudian memutuskan pergi ke RSPAD Gatot Soebroto untuk mendapatkan pengobatan.

Kala mengunjungi RSPAD, Vanessa menggunakan alat bantu kursi roda.

Pemberian vaksin Nusantara

Setelahnya, Vanessa langsung ditangani oleh dr Terawan bersama jajaran tim vaksin Nusantara.

Awalnya, dilakukan pemeriksaan dengan mengambil darah Vanessa untuk kemudian diinkubasi dengan reagen vaksin Nusantara. Seminggu setelahnya yakni tanggal 8 April 2022, kembali dilakukan penyuntikan vaksin ke tubuh Vanessa.

Kondisi Vanessa pasca penyuntikan vaksin Nusantara

Pasca menerima vaksin Nusantara, Vanessa dikabarkan mampu berdiri. Kondisi ini diungkap oleh pihak keluarga ke dr Terawan.

Bahkan menurut pengakuan pihak keluarga, dua hari setelah menerima vaksin Nusantara, Vanessa bisa berjalan sendiri ke minimarket. Kemudian sehari setelahnya bisa naik turun tangga seperti biasanya.

Penyelidikan kasus

Menanggapi kasus tersebut, Kepala RSPAD Gatot Soebroto Letjen Albertus Budi Sulistya mengatakan pihaknya sedang menyusun laporan khusus.

"RSPAD menugaskan Kepala Instalasi Cell Cure Kol Ckm dr Roedi Jatmiko, Sp A, Kol Ckm dr Yeni Purnama, Sp A (K), M.A.R.S, MH dan Tim Cell Cure Center untuk membuat CASE REPORT," kata dr Budi melalui pesan singkat kepada detikcom, Sabtu (30/4/2022).

Hanya efek plasebo?

Menurut Mantan Menteri Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih, keterkaitan vaksin dan kondisi kesehatan yang bersangkutan perlu analisa lebih lanjut. Ia mewanti-wanti, jangan sampai yang dirasakan dampak plasebo atau efek palsu setelah mengonsumsi obat tanpa zat aktif.

"Untuk menghindari efek plasebo, apalagi kalau kebetulannya cuma sekali, sembuhnya cuma sekali atau lima kali, itu nggak bisa kemudian diambil ditarik kesimpulan, bahwa (vaksin) itu bisa menyembuhkan," kata Daeng, dikutip dari CNNIndonesia.com, Sabtu (30/4).

"Kalaupun terjadi, kebetulan, itu jangan kemudian buru-buru didalilkan, karena kebetulan itu harus dibuktikan. Jangan satu kasus kemudian digeneralisir bahwa itu memiliki khasiat itu," lanjut dia.

Penjelasan pakar IDI

Sementara itu, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban memaparkan, secara umum vaksin tidak bisa menyembuhkan penyakit. Laporan kesembuhan beberapa pasien tidak bisa dijadikan bukti medis perawatan, diperlukan uji klinis untuk membuktikan efektivitas dan keamanan vaksin.

"Logika vaksin sebenarnya bukan untuk menyembuhkan, vaksin diberikan untuk memberi daya lindung seseorang terhadap virus," tutur Prof Zubairi dalam akun Twitter pribadinya, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan, Minggu (1/4/2022).

"Klaim satu atau dua pasien tidak bisa jadi dasar persetujuan BPOM, FDA, EMA atau NHS untuk dijadikan pengobatan. Tetap harus melalui uji klinik 1, 2, dan 3 yang kemudian dinyatakan efektif dan aman pada skala besar," terang dia.

Lebih lanjut Prof Zubairi mengatakan, vaksin Nusantara yang bebrasil sel dendritik memang sudah banyak digunakan untuk beragam pengobatan salah satunya kanker. Namun, jenis pengobatan tersebut belum ada bukti ilmiah bisa menyembuhkan seseorang yang lumpuh.

Ia menekankan pengembangan vaksin atau obat memang terbilang sulit. "Bahkan setelah (vaksin) terbukti dan disetujui, ada yang namanya postmarketing surveillance (PMS). Semacam evaluasi dan pemantauan," kata dia.

"Sebab itu, saya dukung vaksin Nusantara untuk melakukan penelitian lebih lanjut," pesan dia.



Simak Video "Fenomena Vaksin Covid-19 Kedaluwarsa di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(any/naf)