ADVERTISEMENT

Rabu, 11 Mei 2022 02:36 WIB

Mengenal Lupus: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
World lupus day design banner for social media, campaign, and blog post. Lupus autoimmune disease vector illustration. Hari lupus sedunia 2022 (Foto: Getty Images/iStockphoto/Logvinart)
Jakarta -

Lupus merupakan penyakit yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan organ tubuh (penyakit autoimun). Peradangan yang disebabkan lupus bisa mempengaruhi banyak sistem tubuh, termasuk persendian, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung, dan paru-paru.

Penyakit lupus ini sulit didiagnosis karena tanda dan gejalanya sering mirip dengan penyakit lain. Tanda paling khas dari lupus ini munculnya ruam wajah menyerupai sayap kupu-kupu yang membentang di kedua pipi. Ini banyak terjadi pada kasus lupus, meski tidak semuanya.

Penyebab Lupus

Sebagai penyakit autoimun, lupus ini terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat yang ada di tubuh. Dikutip dari laman Mayo Clinic, kemungkinan penyakit lupus ini disebabkan oleh kombinasi genetika dan lingkungan.

Berikut beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab dari penyakit lupus, yakni:

Sinar Matahari

Paparan sinar matahari dapat menyebabkan lesi kulit lupus atau memicu respons internal pada orang yang rentan.

Infeksi

Orang yang memiliki infeksi bisa memicu lupus atau menyebabkan kekambuhan pada beberapa orang.

Obat-obatan

Lupus bisa dipicu oleh beberapa jenis obat tekanan darah, obat kejang, dan antibiotik. Orang yang memiliki lupus yang diinduksi obat biasanya menjadi lebih baik saat mereka berhenti minum obat. Pada kasus yang jarang terjadi, gejala lupus ini bisa bertahan bahkan setelah penggunaan obat dihentikan.

Faktor Risiko Lupus

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya lupus, yaitu:

  • Jenis kelamin. Lupus lebih sering terjadi pada wanita.
  • Usia. Meski lupus bisa terjadi pada semua usia, penyakit ini paling sering didiagnosis antara usia 15 dan 45 tahun.


Gejala Lupus

Perlu diketahui, tidak ada kasus lupus yang persis sama. Tanda dan gejala ini bisa muncul tiba-tiba atau berkembang perlahan, bisa jadi gejala ringan atau ringan, bisa hanya sementara atau permanen.

Kebanyakan orang dengan lupus memiliki penyakit ringan yang ditandai dengan episode yang disebut flare. Tanda dan gejala ini sewaktu-waktu bisa membaik, memburuk, atau hilang untuk sementara waktu.

Tanda dan gejala penyakit lupus bisa tergantung pada sistem tubuh mana yang terkena penyakit tersebut. Tanda dan gejala lupus yang paling umum yaitu:

  • Kelelahan
  • Demam
  • Nyeri sendi, kaku dan bengkak
  • Ruam berbentuk kupu-kupu di wajah yang menutupi pipi dan pangkal hidung atau ruam di tempat lain di tubuh
  • Lesi kulit yang muncul atau memburuk dengan paparan sinar matahari
  • Jari tangan dan kaki yang menjadi putih atau biru saat terkena dingin atau selama periode stres
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Mata kering
  • Sakit kepala, kebingungan, dan kehilangan ingatan

Pengobatan Lupus

Perawatan dan pengobatan lupus tergantung pada tanda dan gejala yang muncul. Itu juga menjadi penentu apakah pengidap lupus harus dirawat dan obat apa yang harus diberikan.

Saat tanda dan gejala lupus mereda, dokter kemungkinan akan melakukan perubahan pada jenis obat dan dosisnya. Obat-obatan yang paling umum diberikan untuk mengendalikan lupus meliputi:

Obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID)

Obat NSAID yang dijual bebas, seperti naproxen sodium (Aleve) dan ibuprofen (Advil, Motrin IB, dan lainnya), bisa digunakan untuk mengobati rasa sakit, bengkak, dan demam yang berkaitan dengan lupus. Adapun obat NSAID yang lebih kuat yang bisa didapatkan dengan resep dokter. Obat ini juga bisa menyebabkan efek samping, seperti pendarahan lambung, masalah ginjal, dan peningkatan risiko masalah jantung.

Obat antimalaria

Obat-obatan yang biasa digunakan untuk mengobati malaria, seperti hydroxychloroquine (Plaquenil), bisa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan dapat membantu mengurangi risiko kambuhnya lupus. Namun, obat ini bisa memicu efek samping termasuk sakit perut (jarang terjadi) dan kerusakan pada retina mata. Maka dari itu, dianjurkan untuk secara rutin memeriksakan mata jika mengkonsumsi obat ini.

Kortikosteroid

Jenis obat kortikosteroid, seperti Prednison dan lainnya, bisa melawan peradangan akibat lupus. Steroid dosis tinggi, seperti methylprednisolone (Medrol), sering digunakan untuk mengendalikan penyakit serius yang melibatkan ginjal dan otak.

Efek samping yang muncul bisa berupa penambahan berat badan, mudah memar, penipisan tulang, tekanan darah tinggi, diabetes, dan peningkatan risiko infeksi. Risiko efek samping ini bisa meningkat jika dosis obat yang diberikan lebih tinggi atau bersamaan dengan terapi jangka panjang.

Imunosupresan

Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan bisa membantu untuk mengendalikan kasus lupus yang serius. Misalnya seperti azathioprine (Imuran, Azasan), mycophenolate (Cellcept), methotrexate (Trexall, Xatmep, lainnya), cyclosporine (Sandimmune, Neoral, Gengraf) dan leflunomide (Arava).

Potensi efek samping yang mungkin muncul seperti peningkatan risiko infeksi, kerusakan hati, penurunan kesuburan, dan meningkatkan risiko kanker.

Obat lainnya

Jenis obat yang berbeda, seperti belimumab (Benlysta), diberikan secara intravena. Ini bisa mengurangi gejala lupus pada beberapa orang. Efek sampingnya berupa mual, diare, infeksi, hingga depresi yang memburuk meski jarang terjadi.



Simak Video "Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Menjalani Intermittent Fasting"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT