Selasa, 17 Mei 2022 07:58 WIB

Riset Ungkap Kemungkinan COVID-19 Jadi Penyebab Hepatitis Akut Misterius

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
HEPATITIS written on a wooden block near a stethoscope, syringe and pills on a blue background. Medical concept Foto: Getty Images/iStockphoto/ALENA DZIHILEVICH
Jakarta -

Para ahli masih terus melakukan penelitian untuk mengungkapkan penyebab hepatitis akut misterius yang menyerang kelompok anak di bawah 16 tahun. Penelitian terbaru di Amerika Serikat menunjukkan adanya kemungkinan hepatitis akut misterius disebabkan oleh infeksi COVID-19.

Studi kasus yang diterbitkan dalam Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition menganalisis seorang anak perempuan berusia 3 tahun yang sebelumnya sehat, lalu mengalami gagal hati. Ini terjadi beberapa minggu setelah anak itu pulih dari infeksi virus Corona dengan gejala ringan.

"Pasien memiliki temuan biopsi hati dan tes darah yang konsisten dengan jenis hepatitis autoimun, kemungkinan dipicu oleh infeksi COVID," kata dr Anna Peters, ahli gastroenterologi anak di Pusat Medis Rumah Sakit Anak Cincinnati, dikutip dari CBC, Selasa (17/5/2022).

Lebih lanjut dr Peters yang merupakan penulis utama penelitian tersebut menyampaikan, meski tidak mungkin membuktikan bahwa COVID-19 secara langsung menyebabkan gagal hati, ada kemungkinan virus itu memicu 'respons imun abnormal' yang kemudian menyerang organ hati.

"Saya pikir ini penting bagi para dokter untuk waspada bahwa kondisi langka ini mungkin terjadi selama atau setelah terinfeksi COVID-19. Penting untuk memeriksa tes hati pada pasien yang tidak kunjung membaik," tambah dr Peters.

Studi di Israel

Sementara itu, dr Yael Mozer Glassberg mengatakan bahwa timnya di Schneider Children's Medical Center setidaknya sudah merawat 8 kasus hepatitis misterius sejak Februari 2021.

Staf medis menganalisis kasus tersebut dan menemukan persamaan bahwa setiap anak yang mengalami hepatitis akut misterius pernah terinfeksi COVID-19. Hasil analisa berdasarkan tes serologi dan riwayat medis setiap keluarga.

"Namun tidak ada satu pun dari pasien dinyatakan positif Adenovirus," kata dr Glassberg.

Selanjutnya
Halaman
1 2