Selasa, 17 Mei 2022 11:30 WIB

Kemenkes: Masalah Kejiwaan Meningkat 2 Kali Lipat Selama Pandemi COVID-19

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
An exhausted customer service rep snoozing on her computer with her hand still clutched to her coffee. Foto: iStock
Jakarta -

Penyebaran COVID-19 di dunia yang semakin berkurang, ternyata masih menimbulkan berbagai ancaman. Salah satunya kesehatan jiwa masyarakat luas.

Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI drg Vensya Sitohang mengatakan sebagian orang mengalami gangguan mental neurologi dan juga penggunaan zat selama pandemi COVID-19.

"Kondisi pandemi (COVID-19) memperparah ataupun semakin mempengaruhi kesehatan jiwa," katanya pada konferensi pers di Hotel Conrad, Bali, dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan RI, Selasa (17/5/2022).

Ia mengatakan, angka prevalensi meningkat sampai 2 kali lipat dibandingkan kondisi sebelum pandemi COVID-19.

Dalam kesempatan yang sama, psikiater dr Hervita Diatri, SpKJ (K), menjelaskan kelompok yang terpapar gangguan jiwa selama pandemi COVID-19 itu berbeda-beda dan memiliki penatalaksanaan yang berbeda-beda pula. Disebutkan bahwa pandemi COVID-19 berdampak besar pada empat kelompok berikut:

1. Orang normal

Kelompok pertama mereka yang sebenarnya normal atau tidak memiliki masalah kesehatan jiwa, kemudian memiliki masalah sampai mengalami gangguan jiwa akibat pandemi COVID-19.

2. Orang yang memiliki masalah kesehatan jiwa

Kelompok kedua adalah mereka yang sudah mengalami masalah kesehatan jiwa dan diperparah akibat pandemi COVID-19.

Contohnya, mereka yang mengalami kekerasan di rumah tangga. Akibat pandemi COVID-19, korban harus berdekatan dengan pelaku di rumah tangga yang berakibat pada masalah gangguan jiwa menjadi lebih besar.

3. Orang yang kesulitan mengakses layanan kesehatan

Kelompok ketiga, mereka yang sudah memiliki masalah kesehatan jiwa tetapi kesulitan mengakses layanan kesehatan akibat pandemi COVID-19.

Kondisi tersebut wajar membuat pasien merasa cemas dan membuat mereka kesulitan mengakses pengobatan.

4. Orang yang kesulitan mengakses asupan oksigen

Kelompok terakhir, mereka yang memiliki gangguan jiwa akibat kesulitan mengakses asupan oksigen pada Juli 2021 lalu.

Ketika gelombang kedua pandemi COVID-19 menerpa, oksigen menjadi langka dan sementara asupan oksigen ke otak itu berkurang. Kondisi ini bisa saja menyebabkan gangguan jiwa yang menetap.

Angka bunuh diri meningkat

Jumlah orang yang memiliki masalah kesehatan jiwa akibat pandemi COVID-19 meningkat, kondisi ini juga berdampak pada meningkatnya angka pemikiran orang untuk mengakhiri hidup.

"Masalah bunuh diri sebagai contoh, di 5 bulan awal pandemi COVID-19 datang. Survey mengatakan bahwa 1 dari 5 orang di Indonesia usia 15 sampai 29 tahun terpikir untuk mengakhiri hidup. Selanjutnya 1 tahun pasca pandemi oleh survei yang berbeda didapatkan data 2 dari 5 orang memikirkan untuk bunuh diri," kata dr Hervita.

"Dan sekarang di tahun awal 2022 itu sekitar 1 dari 2 orang yang memikirkan untuk mengakhiri hidup."



Simak Video "Apakah Mungkin Cacar Monyet Jadi Pandemi Selanjutnya?"
[Gambas:Video 20detik]
(any/fds)