Rabu, 18 Mei 2022 07:25 WIB

Jokowi Longgarkan Aturan, Epidemiolog Ungkap Tanda-tanda Sudah Aman Buka Masker

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Dicky Budiman ikut menanggapi kebijakan pemerintah melonggarkan aturan masker. Menurutnya, pelonggaran aturan memakai masker aman asalkan cakupan vaksinasi COVID-19 dosis ketiga sudah melampaui 50 persen.

Sementara berdasarkan laporan vaksin.kemkes.go.id (https://vaksin.kemkes.go.id/#/vaccines) pukul 18:00 WIB per Selasa (17/5), total cakupan vaksinasi ketiga baru mencapai 20,54 persen dari kelompok sasaran. Karenanya, Dicky mengingatkan warga untuk tidak euforia.

"Jangan sampai euforia atau percaya diri berlebihan yang akhirnya membuat kita abai dan merugikan kita sendiri," sebut Dicky saat dihubungi detikcom Selasa (17/5/2022).

Dicky menyarankan ada baiknya masyarakat tetap memakai masker di luar ruangan saat sirkulasi udara setempat tidak baik. Bagaimana cara mengetahuinya?

"Kalau kita bisa merasakan di dagu kita ada hembusan angin itu sudah relatif aman karena sirkulasi udara di outdoor di situ bagus, tapi ada outdoor tapi anginnya kurang, nah ini yang berbahaya itu artinya tidak serta merta outdoor itu boleh tidak memakai masker," kata dia.

Penularan utama COVID-19 disebut Dicky melalui udara, ia khawatir banyak warga terlanjur abai di tengah munculnya turunan varian Omicron seperti BA.2.12.1 dengan angka penularan sangat tinggi.

"Artinya harus disampaikan pada publik, bahwa pemerintah memiliki acuan ya silahkan, tapi yang namanya komunikasi risiko itu harus memberikan informasi yang memadai pada publik sehingga mereka bisa menilai diri sendiri ini adalah situasi yang aman nggak saya tidak memakai masker," pungkas dia.

Bagi kelompok rawan dan mereka yang baru divaksinasi COVID-19 dua dosis, Dicky menilai ada baiknya tetap melakukan pencegahan dengan menggunakan masker.

"Karena masker ini adalah satu perilaku yang selain mudah murah efektif, dalam mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui udara seperti halnya COVID-19 ini, dan apalagi dikombinasikan dengan akselerasi atau peningkatan cakupan vaksinasi," pinta dia.

(naf/up)