Kamis, 19 Mei 2022 21:00 WIB

Pengguna Sinovac yang Dibooster AZ-Pfizer Boleh Gembira! Ada Kabar Baik Nih

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Vaksin door to door gencar dilakukan sebagai langkah percepatan vaksinasi. Jelang HUT RI, aktivitas ini kental dengan nuansa kemerdekaan. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Studi baru di Chili yang diterbitkan The Lancet menunjukkan efektivitas pemberian vaksin COVID-19 booster heterolog pada pengguna vaksin Sinovac dosis 1 dan 2. Dilaporkan, imunitas atau kekebalan yang timbul lebih tinggi dibandingkan homolog.

Artinya, mereka yang menerima dua dosis primer vaksin Sinovac lebih baik melanjutkan suntik booster dengan jenis vaksin yang berbeda.

Adapun riset ini dilakukan oleh sejumlah ahli dari Institute of Science and Innovation in Medicine, Clinica Alemana Universidad del Desarrollo, hingga Kementerian Kesehatan Chili.

Para ahli menganalisis efektivitas vaksin COVID-19 booster yang diberikan secara heterolog ke pengguna Sinovac memakai AZD1222 (Oxford-AstraZeneca) dan BNT162b2 (Pfizer-BioNTech). Ada 11.174.257 warga Chili mengikuti penelitian ini, 4.127.546 di antaranya menyelesaikan jadwal imunisasi primer (dua dosis) dengan CoronaVac dan menerima dosis booster selama masa studi.

Dari total warga tersebut, terdapat 1.921.340 peserta menerima vaksin booster AstraZeneca. 2.019.260 (48,9 persen di antaranya) menerima vaksin COVID-19 Pfizer BNT162b2 dan 186.946 menerima vaksin booster homolog dengan CoronaVac.

Hasilnya, efektivitas vaksin COVID-19 dalam mencegah gejala pada mereka yang menerima booster homolog Sinovac hanya 79 persen. Sedangkan mereka yang menerima booster Pfizer melaporkan efektivitas lebih tinggi yakni 97 persen dan AstraZeneca 93 persen.

Begitu juga terkait angka kematian COVID-19, kasus rawat inap dan ICU, penerima booster homolog tetap memiliki angka efektivitas lebih rendah dibandingkan penerima booster heterolog.

"Hasil kami menunjukkan bahwa dosis ketiga vaksin Sinovac (Coronavac) atau menggunakan vaksin booster yang berbeda seperti vaksin Pfrizer-BioNTech dan Astra Zeneca pada pengguna vaksin primer Sinovac, sama-sama memberikan perlindungan tingkat tinggi terhadap COVID-19, termasuk penyakit parah dan kematian," terang para peneliti.

"Namun, menerima vaksin booster berbeda dengan vaksin primer menghasilkan efektivitas vaksin lebih tinggi daripada kembali disuntik vaksin Sinovac (Coronavac) untuk dosis ketiga, baik dalam mencegah rawat inap hingga kematian," sambungnya.

NEXT: Detail temuan soal booster Pfizer-AstraZeneca untuk vaksin primer Sinovac.

Selanjutnya
Halaman
1 2