Rabu, 25 Mei 2022 12:00 WIB

RI Masih Dihantui Gelombang COVID-19 Keempat? Ini Prediksi Epidemiolog

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Pemerintah menyebut Indonesia akan menghadapi gelombang varian Omicron baru. Peningkatan kasus Omicron disebut lebih cepat berkembang ketimbang COVID-19 varian Delta. Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Pakar epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia menilai gelombang COVID-19 berikutnya masih sulit diprediksi. Berkaca dari rentang waktu puncak kasus COVID-19 terjadi, paling lama gelombang baru muncul empat bulan dari gelombang sebelumnya.

Seperti diketahui, puncak gelombang ketiga COVID-19 disebut Satgas berada di pertengahan Februari dengan kasus mingguan mencapai 400 ribu. Karenanya, Dicky menilai kemungkinan adanya gelombang baru bisa terlihat di akhir Mei atau awal Juni 2022.

Periode tersebut menentukan apakah Indonesia masih rentan atau benar-benar sudah masuk fase pandemi COVID-19 terkendali.

"Artinya sebenarnya Juni ini nanti tes case untuk Indonesia, apakah kita akan ada gelombang baru, walaupun kecil," beber dia.

"Jelas kemungkinan gelombangnya bisa terjadi sebetulnya, tapi masalahnya deteksi kita kan suiit jauh-jauh sangat menurun," sambung Dicky.

Meski begitu, Dicky menekankan saat ini indikator penilaian wabah COVID-19 tidak hanya berdasarkan berapa banyak jumlah infeksi, melainkan angka fatalitas. Jika angka fatalitas tinggi, artinya ada risiko Indonesia masih berada di fase akut pandemi COVID-19, atau kemungkinan munculnya varian baru dengan karakteristik berbeda.

"Tahun ketiga ini, yang mendominasi dunia omicron dan turunan-turunannya, ini satu kondisi yang mensyaratkan kita tidak hanya bisa melihat kasus infeksi saja, tapi kita harus lihat keparahan dan perubahan karakter atau bahkan varian yang lebih fatal," pungkas dia.

Dicky tidak menampik imunitas COVID-19 yang dimiliki warga Indonesia mampu menekan risiko perawatan di RS lebih rendah. Namun, ia mengingatkan pentingnya vaksinasi booster demi meningkatkan kekebalan pasca vaksinasi.



Simak Video "Faktor yang Memengaruhi Keparahan Pasien Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)