Kamis, 26 Mei 2022 08:46 WIB

Mantan Bos WHO Rekomendasikan Vaksin Booster Kedua, Ini yang Jadi Prioritas

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengusulkan pemerintah mengkaji kebijakan vaksinasi booster COVID-19 kedua. Bukan serentak secara nasional, melainkan pemberian di skala daerah.

Usulan tersebut mengacu pada kebijakan yang ia lihat di New York, Amerika Serikat (AS). Disebutnya, Dinas Kesehatan New York mulai memberikan vaksinasi COVID-19 booster kedua, bahkan pada usia anak 5-11 tahun dengan kondisi gangguan imunitas.

Tetap ada beberapa kelompok yang diprioritaskan menjadi penerima vaksinasi COVID-19 booster kedua.

"Mereka yang berusia 50 tahun ke atas juga perlu mendapat booster kedua, dalam jarak 4 bulan setelah menerima booster pertama, demikian juga halnya mereka yang berusia di atas 12 tahun tetapi ada gangguan imunologis sedang dan berat," beber Prof Tjandra menjelaskan kebijakan Dinas Kesehatan New York AS.

Seperti diketahui, pemberian vaksinasi booster diperlukan untuk memperkuat imunitas pasca suntik yang diyakini bisa memudar seiring waktu. Karenanya, banyak pakar menyoroti penambahan vaksinasi booster kedua dibutuhkan bagi kelompok rawan.

"Kebijakan ini dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan New York, artinya bukan nasional. Perlunya pemberian vaksin booster kedua memang makin luas digunakan," pesan dia.

Sementara beberapa waktu lalu juru bicara Kementerian Kesehatan RI dr Mohammad Syahril menekankan belum ada wacana pemberian vaksinasi booster kedua bagi kelompok tertentu. Hal ini dikarenakan pemerintah masih fokus menggencarkan vaksinasi lengkap dan vaksinasi booster pertama.



Simak Video "Fenomena Vaksin Covid-19 Kedaluwarsa di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)