Jumat, 27 Mei 2022 18:04 WIB

Round Up

Catatan Pakar Soal Publikasi 'Vaksin Nusantara' di Jurnal Internasional

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Anggota Komisi IX Ribka Tjiptaning dari Fraksi PDIP berbicara soal singkatan korona yakni komunitas rondo mempesona. Penggagas vaksin nusantara dr Terawan Agus Putranto (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta -

Peneliti vaksin Nusantara mempublikasikan riset mengenai vaksin COVID-19 tersebut di jurnal internasional. Vaksin besutan mantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto itu dirilis dalam artikel bertajuk 'Dendritic cell vaccine as a potential strategy to end the COVID-19 pandemic. Why should it be Ex Vivo?'.

Dalam jurnal itu, disebutkan bahwa sel dendritik yang digunakan sebagai basis vaksin Nusantara berpotensi untuk menciptakan imunitas yang mungkin mengganggu infeksi virus Corona. Dengan terbitnya artikel tersebut, peneliti utama vaksin Nusantara Kolonel Jonny menyebut kualitas vaksin Nusantara sudah tidak perlu diragukan lagi.

"Bersyukur jurnal mengenai Vaksin Nusantara baru saja terbit di Expert Review of Vaccine yang bila kita lihat di Scopus.com merupakan jurnal dengan tingkat Q1 yang artinya merupakan jurnal yang mempunyai impact tinggi dan diterbitkan dengan seleksi yang ketat," tertulis dalam artikel yang diterima detikcom dari Kolonel Jonny, Jumat (27/5/2022).

"Ini menunjukkan bahwa artikel mengenai Vaksin Nusantara dengan judul "Dendritic cell vaccine as a potential strategy to end the COVID-19 pandemic. Why should it be Ex Vivo?" ini kualitasnya tidak perlu diragukan karena sudah direview oleh para ahli dari berbagai negara di dunia," pungkasnya.

Kritik dari Para Pakar

Namun, publikasi ini mengundang kritik dari beberapa pakar. Salah satunya pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo. Ia menilai artikel tersebut masih sebatas publikasi ide.

"Yang dituntut publikasi oleh masyarakat ilmuwan itu bukan publikasi ide, tapi publikasi hasil penelitian praklinis sebagai justifikasi uji klinis pada manusia," kata Ahmad saat dihubungi detikcom, Jumat (27/5/2022).

Dalam penjelasannya, Ahmad menilai artikel tersebut terlalu menitikberatkan pada aktivitas imunitas seluler yaitu aktivitas Sel T. Itu disebut akan membunuh sel yang terinfeksi virus.

Menurutnya imunitas yang dibutuhkan juga mencangkup imunitas humoral oleh sel B. Ahmad mengatakan itu perlu dibuktikan dengan penelitian praklinis pada hewan.

"Pertanyaannya, apakah cukup hanya sel T saja?" kata Ahmad.

"Itu yang perlu dibuktikan dulu dengan penelitian praklinis yaitu pada hewan coba dengan menggunakan uji tantang," jelasnya.

Pakar epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia mengungkapkan bahwa vaksin Nusantara bukanlah vaksin berbasis sel dendritik yang pertama di dunia. Bahkan pembahasan dalam artikel tersebut disebutnya tidak mencantumkan nama 'vaksin Nusantara'.

"Perlu merubah namanya bukan vaksin Nusantara, karena menjadi misleading atau misinterpretasi yang seakan-akan itu sudah Nusantara," ujar epidemiolog Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia kepada detikcom, Jumat (27/5/2022).

"Ini kan vaksin dendritik ini kan review-nya sudah banyak, sudah bukan kita pioner dalam hal ini. Ini bukan inovasi Indonesia, bukan. Ini adalah advance untuk melihat bagaimana potensi dari vaksin ini untuk COVID-19," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Butet Kartaredjasa: Saya Pokoknya Percaya sama Terawan"
[Gambas:Video 20detik]