Minggu, 29 Mei 2022 14:05 WIB

Mau Berenang di Perairan Terbuka? Waspadai Dulu Bahayanya

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
TOPSHOT - Young men jump into the river Aare on June 21, 2017 in Bern.

Europe sizzled in a continent-wide heatwave with London bracing for Britains hottest June day since 1976 as Portugal battled to stamp out deadly forest fires. Cooler weather was aiding their efforts, but thermometers were still hovering around 35 degrees Celsius (95 degrees Fahrenheit) -- a level matched across oven-like swathes of Europe, including Italy, Austria, the Netherlands and even alpine Switzerland. / AFP PHOTO / Fabrice COFFRINI        (Photo credit should read FABRICE COFFRINI/AFP) Foto: Fabrice Coffrini/AFP via Getty Images
Jakarta -

Berenang di perairan terbuka, seperti laut, sungai, maupun danau memang sangat mengasyikkan dan menyegarkan. Selain menikmati pemandangan yang indah, seseorang mungkin merasa seperti menyatu dengan alam.

Sayangnya, berenang di perairan terbuka juga sangat berbahaya. Dikutip dari Healthline, Minggu (29/5/2022), berikut informasi lengkap terkait bahaya berenang di perairan terbuka.

1. Bahaya Kualitas Air

Advokat keamanan makanan dan air dari Houston, Candess Zona-Mendola menyebut kualitas air yang buruk dapat membuat berenang tidak aman. Pasalnya, bisa saja air tersebut terkontaminasi oleh patogen jahat, seperti bakteri vibrio. Bakteri ini merupakan pemakan daging yang kerap muncul pada bulan-bulan musim panas.

"Salah satu bahaya air tersembunyi terbesar yang kita lihat di musim panas adalah bakteri vibrio di lingkungan air asin, seperti laut," katanya.

Untuk mencegah terinfeksi bakteri tersebut, pastikan untuk tidak meminum air atau terkena luka terbuka saat berenang.

"Karena kenaikan suhu laut dan pemanasan global, kami melihat semakin banyak kasus vibrio," sambungnya.

Selain bakteri vibrio, ada juga amuba pemakan otak yang dikenal sebagai naegleria fowleri. Amuba tersebut umumnya bisa masuk ke lubang hidung dan berjalan ke otak, serta kerap ditemukan di lingkungan air tawar yang hangat, seperti danau, mata air panas, dan sungai.

Adapun pencegahannya bisa dilakukan dengan menggunakan penjepit hidung saat berenang.

2. Kekuatan Arus Air

Penting sekali untuk mewaspadai kekuatan air ketika berenang di pantai maupun di sungai. Pasalnya, hal ini bisa sangat mematikan bagi perenang lantaran bisa hanyut terdorong arus yang kencang.

Begitu juga dengan gelombang pecah yang besar pun bisa sangat berbahaya bagi para perenang. Profesor di University of New South Wales, Rob Brander, PhD mengungkapkan bahwa terdorong atau tertarik ke dasar air oleh gelombang besar dapat membingungkan perenang, sehingga sangat berbahaya bagi anak kecil atau orang yang tidak pandai berenang.

3. Tenggelam

Selain kekuatan arus, tenggelam juga menjadi risiko bahaya bagi seseorang yang berenang, apalagi jika berenang di perairan yang terbuka.

Tom Griffiths, Presiden dan Pendiri Aquatic Safety Research Group, menjelaskan bahwa tenggelam dapat terjadi hanya dalam dua menit, sehingga penting untuk membawa alat seperti pelampung untuk menghindari risiko tenggelam.

"Perairan terbuka terus menjadi lebih berbahaya daripada kolam renang air jernih karena kondisi lingkungan seperti ombak, arus, kurangnya kejernihan air, penurunan tiba-tiba, dan lainnya, tetapi kolam renang dengan penjaga pantai yang bertugas juga dapat berisiko bagi nonperenang," sambungnya.

4. Dry Drowning

Dry drowning atau tenggelam kering merupakan risiko bagi seseorang yang menghirup air. Griffiths menyebut air dapat merusak paru-paru dalam waktu dua jam setelah dihirup, bahkan menyebabkan batuk, kelelahan, dan mudah marah.

"Anda tidak bisa tenggelam tanpa memasukkan air ke dalam paru-paru. Namun, dalam keadaan yang sangat jarang, anak-anak yang menyedot air dapat tenggelam beberapa saat setelah meninggalkan air jika tidak diobati," jelasnya.

Apabila seseorang terlanjur menghirup air dan bertingkah tidak normal, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit.

5. Menahan Napas

Risiko bahaya berikutnya adalah menahan napas. Mungkin hal ini terdengar seperti aktivitas umum bagi perenang, namun praktik tahan napas yang terlalu ekstrem bisa berakibat fatal hingga mematikan.

"Perenang dan atlet yang baik seringkali percaya bahwa menahan napas secara ekstrem baik untuk waktu atau jarak adalah jalan pintas menuju daya tahan," jelas Griffiths.

"Menahan napas yang kompetitif, berulang, dan termasuk olahraga berat dan/atau hiperventilasi bisa mematikan. Menahan napas secara ekstrem yang kompetitif dan berulang-ulang harus dilarang di semua kolam renang," katanya.



Simak Video "Ahli Jelaskan Soal Viral 'Wanita Berenang Bersama Pria Bisa Hamil'"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)