Kritik WHO untuk Perokok RI: Prevalensi Turun, Tapi Jumlah Totalnya Naik

ADVERTISEMENT

Kritik WHO untuk Perokok RI: Prevalensi Turun, Tapi Jumlah Totalnya Naik

Firdaus Anwar - detikHealth
Selasa, 31 Mei 2022 12:32 WIB
World No Tobacco Day Concept. Stop Smoking. Tobacco cigarette butts With the level bar represent the level of life caused by smoking. health concept The more you smoke, the worse your health and life.
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/pcess609
Jakarta -

Dalam laporan Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 terungkap prevalensi perokok di Indonesia telah berkurang 1,6 persen. Tetapi, secara total jumlah perokok di Indonesia tetap mengalami peningkatan.

Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia, Dr N Paranietharan, menjelaskan masih ada pekerjaan rumah (PR) untuk Indonesia dalam mengejar target mengurangi 40 persen prevalensi perokok pada tahun 2030. Bila dilihat secara keseluruhan dalam 10 tahun terakhir terdapat sampai 10 juta perokok baru di Indonesia.

"Sekarang tantangannya melihat hasil dari GATS, meski ada pengurangan 1,6 persen prevalensi perokok, bila melihat angka absolutnya ada 10 juta orang perokok baru," kata Dr Paranie dalam acara peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2022 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI, Selasa (31/5/2022).

"Jadi total perokok di Indonesia ada sekitar 70 juta orang dewasa. Ini tren dalam 10 tahun terakhir," lanjutnya.

Temuan pada GATS 2021 menjelaskan lebih detail ada 70,2 juta (34,5 persen) perokok usia dewasa di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 65,5 persennya adalah laki-laki.

Dr Paranaie berharap peran puskesmas dapat lebih ditingkatkan untuk membantu para perokok yang ingin berhenti. Ini didasari hasil dari GATS yang juga melihat 63,4 persen perokok dewasa di Indonesia yang sebetulnya ingin berhenti.

"Mungkin setiap puskesmas di Indonesia bisa memiliki minimal satu tenaga profesional untuk membantu program berhenti merokok dalam lima tahun ke depan. Selain itu tetapkan juga target per sesi konseling sebagai indikator untuk monitoring," pungkas Dr Paranie.

Simak Video 'Kemenkes Ungkap Uang Belanja Rokok Lebih Tinggi Daripada Makanan Bergizi':

[Gambas:Video 20detik]




(fds/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT