Harga Mahal Tak Bikin Warga RI Ogah Merokok, WHO Sorot Bebannya ke Fasyankes

ADVERTISEMENT

Harga Mahal Tak Bikin Warga RI Ogah Merokok, WHO Sorot Bebannya ke Fasyankes

Vidya Pinandhita - detikHealth
Selasa, 31 Mei 2022 17:42 WIB
Geneva, Switzerland - December 03, 2019: World Health Organization (WHO / OMS) Logo at WHO Headquarters
Foto: Getty Images/diegograndi
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyorot tingginya jumlah perokok di Indonesia. Pasalnya, meski harga produk rokok telah berkali-kali dinaikkan, jumlah perokok di Indonesia masih terus meningkat. Bahkan bertambah sebanyak 8 juta perokok dalam 10 tahun terakhir.

Melihat harga produk di Indonesia relatif masih lebih murah dibandingkan di negara lain, perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr N Paranietharan, menegaskan pentingnya menaikkan harga produk rokok. Memang meski harga rokok sudah dinaikkan, jumlah perokok tak berhasil ditekan, justru terus meningkat.

Setidaknya, menurut Paranie, tambahan pemasukan dari penjualan rokok bisa dialihkan ke pelayanan kesehatan yang kini terbebani oleh pengobatan penyakit akibat merokok. Mengingat, penyakit akibat rokok sebagian besarnya kronis dan membutuhkan biaya besar.

"Jika tidak demikian, BPJS dan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) setiap tahunnya akan sangat kesulitan untuk menyeimbangkan. Ini adalah akibat efek samping dan penyakit (merokok)," ujar Paranie saat ditemui detikcom di konferensi pers Peluncuran Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, Jakarta Selatan, Selasa (31/5/2022).

"Sebagian besar penyakit akibat rokok bersifat kronis dan membutuhkan pengobatan yang sangat mahal. Iuran harus digabungkan dengan penjualan rokok dan semua produk tembakau sehingga uangnya bisa dialihkan ke pelayanan kesehatan," imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut juga, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono menyebut tingginya bea cukai produk rokok tak kunjung menurunkan niat masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi rokok.

"(Naik harga rokok) pun tidak signifikan untuk meningkatkan ketidakmauan mereka untuk merokok. Karena kita sudah menaikkan cukai rokok, harga rokok sudah tinggi tetapi angka yang merokok meningkat 8 juta orang dalam waktu 10 tahun," papar Dante.

Data dari GATS menunjukkan sebanyak 63,4 persen orang dewasa yang saat ini merokok berencana atau mempertimbangkan untuk berhenti merokok. Dibarengi 38,9 persen perokok yang mengunjungi penyedia layanan kesehatan dalam 12 bulan terakhir dianjurkan untuk berhenti merokok.

Seiring itu, 85,7 persen orang dewasa percaya bahwa merokok menyebabkan penyakit serius dan 80 persen orang dewasa percaya bahwa menghirup asap rokok orang lain menyebabkan penyakit serius pada bukan perokok.



Simak Video "Bahaya Vape Vs Rokok"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT