Suhu Panas Tinggi di Puncak Musim Haji, Waspada Risiko Heat Stroke

ADVERTISEMENT

Suhu Panas Tinggi di Puncak Musim Haji, Waspada Risiko Heat Stroke

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Kamis, 02 Jun 2022 16:31 WIB
Salat Jumat perdana Ibadah haji 2016 di Masjidil Haram
Foto: Rachmadin Ismail/Detikcom
Jakarta -

Pelaksanaan ibadah haji tahun ini masih dilaksanakan di tengah pandemi COVID-19. Pada acara pelepasan Petugas Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) pada Selasa pagi (31/5/2022), Sekretaris Jenderal Kemenkes RI Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengingatkan kepada para petugas kesehatan haji dan khususnya para calon jemaah untuk disiplin menjaga protokol kesehatan 5M.

"Saya berharap agar petugas kesehatan dapat menjadi pionir dan memberikan contoh yang baik kepada jemaah dalam menerapkan protokol kesehatan. Tentu saja, kita berharap jemaah dan petugas kita semua terbebas dari COVID-19 baik pada saat keberangkatan hingga kembali ke Tanah Air," ungkapnya dikutip dari laman resmi Kemenkes RI, Kamis (2/6/2022).

Selain dihadapkan pada pandemi COVID-19, tahun ini diperkirakan suhu udara di Arab Saudi meningkat jadi sekitar 50 derajat celcius saat puncak haji Juni-Juli mendatang. Hal ini menjadi perhatian Kemenkes RI agar jemaah haji dan petugas kesehatan bersiap menghadapinya agar terhindar dari kondisi heat stroke (serangan panas).

Sebelumnya, dalam rapat koordinasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Bidang Kesehatan pada Kamis (26/5), Koordinator Promosi Kesehatan PPIH Bidang Kesehatan dr Edi Supriyatna mengatakan, perbedaan suhu yang ekstrim ditambah kelembaban yang rendah di Arab Saudi, menimbulkan potensi dehidrasi bagi jemaah haji. Kondisi ini dapat mengarah pada situasi yang lebih parah yakni heat exhaustion bahkan heat stroke.

Dilansir dari laman resmi Kemenkes, dr Edi berujar asupan mineral yang cukup menjadi kunci penting menjaga jemaah haji tetap terhidrasi dengan baik.

"Kunci dehidrasi adalah mineral loss, jadi harus minum air yang dicampur elektrolit, jangan tunggu haus," ujarnya.

Fungsi elektrolit di sini bukan sebagai obat diare, melainkan sebagai pengganti mineral yang hilang selama menjalankan aktivitas di tengah cuaca yang sangat terik dan minim kelembaban. Konsumsi elektrolit dilakukan setelah jemaah haji melakukan aktifitas di luar hotel, dengan mencampurkan 1 sachet oralit dengan 600 ml air.

Selain itu jemaah juga diminta untuk minum air 5-6 botol sehari dengan takaran 600 ml air setiap botolnya dan menggunakan topi dengan bibir (pinggiran) yang lebar sehingga kepala bisa terhindar dari sengatan langsung.



Simak Video "Ini Daftar Vaksin yang Diakui Arab Saudi untuk Syarat Naik Haji"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT