ADVERTISEMENT

Kamis, 02 Jun 2022 20:15 WIB

Dikaitkan dengan Sindrom Patah Hati, Suami Korban Penembakan di Texas Meninggal

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Patah Hati Dikaitkan dengan sindrom patah hati, suami korban penembakan di Texas meninggal. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Heboh dikabarkan penembakan massal di Robb Elementary School, Uvalde, Texas, Amerika Serikat pada hari Selasa (24/5/2022). Kejadian ini telah merenggut 21 nyawa, yaitu 19 murid dan 2 guru.

Dua hari setelah kejadian tersebut, Joe Garcia, salah satu suami dari korban penembakan tersebut dikabarkan juga meninggal pada Kamis waktu setempat (26/5/2022). Joe adalah suami dari Irma Garcia, salah satu dari dua guru yang menjadi korban.

Pihak keluarga percaya bahwa meninggalnya Joe disebabkan karena patah hati akibat kehilangan sang istri pada peristiwa memilukan tersebut.

Dalam sebuah laman penggalangan dana GoFundMe yang diselenggarakan oleh sepupu Irma, Debra Austin menulis, "Saya benar-benar percaya Joe meninggal karena patah hati,".

Dikutip dari USA Today, Senin (30/5/2022), kondisi yang Joe alami disebut sebagai sindrom patah hati. Dokter Ilan Wittstein seorang ahli jantung dan profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins menyebut kondisi ini dapat terjadi akibat dari stres berat yang melemahkan otot jantung.

"Otot jantung tiba-tiba menjadi lemah dalam keadaan stres berat," sebutnya.

"Jika Anda menganggap jantung sebagai pompa yang harus memompa darah ke seluruh tubuh, jika otot jantung tiba-tiba melemah, itu dapat menciptakan situasi di mana darah tidak sampai ke organ vital, dan seseorang bisa mati," sambungnya.

Sindrom patah hati dalam istilah medis disebut sebagai takotsubo cardiomyopathy, menurut Asosiasi Jantung Amerika kondisi ini menyebabkan nyeri dada dan sesak napas, gejala yang bisa menyerupai serangan jantung.

Stres yang menyebabkan sindrom patah hati bisa disebabkan momen emosional seperti ketika kematian orang yang dicintai, ketakutan setelah kecelakaan mobil, atau menjadi korban kejahatan. Bisa juga dipengaruhi kondisi kesehatan fisik seperti stroke, radang paru-paru, infeksi parah, atau bahkan latihan fisik ekstrim.

Adapun pada kasus Joe, "tidak diragukan lagi bahwa apa yang dia alami berkontribusi pada kematiannya," pungkas dr Wittstein.



Simak Video "Menkes Sebut Masih Banyak Pengidap Jantung Tak Bisa Pasang Ring"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT