Mengenal Buta Warna: Penyebab, Tipe, hingga Pengobatan

ADVERTISEMENT

Mengenal Buta Warna: Penyebab, Tipe, hingga Pengobatan

Rosiana Muliandari - detikHealth
Kamis, 02 Jun 2022 20:45 WIB
Looking through glasses to black and white tulips focused in womens glasses. Color blindness. World perception during depression. Medical condition. Health and disease concept.
Buta Warna (Foto: Getty Images/iStockphoto/Maria Vonotna)
Jakarta -

Buta warna merupakan kondisi saat seseorang kesulitan untuk membedakan warna-warna tertentu. Umumnya, kondisi ini bersifat turunan dan cenderung terjadi pada laki-laki.

Kebanyakan orang dengan buta warna tidak dapat membedakan antara warna merah dan hijau tertentu. Dalam kasus yang lebih jarang, orang dengan buta warna tidak dapat membedakan antara warna biru dan kuning.

Penyebab Buta Warna

Dikutip dari Mayo Clinic, melihat warna adalah proses kompleks yang dimulai dengan kemampuan mata untuk merespons panjang gelombang cahaya yang berbeda.

Cahaya, yang mengandung semua panjang gelombang warna, memasuki mata melalui kornea, melewati lensa dan jaringan seperti jeli di mata (vitreous humor) ke sel yang peka terhadap panjang gelombang (atau 'sel kerucut') di bagian belakang mata.

Sel kerucut peka terhadap panjang gelombang cahaya pendek (biru), sedang (hijau) atau panjang (merah). Bahan kimia di sel kerucut memicu reaksi dan mengirimkan informasi panjang gelombang melalui saraf optik ke otak.

Pada buta warna, sel kerucut kekurangan satu atau lebih bahan kimia yang peka terhadap panjang gelombang, menyebabkan seseorang tidak akan dapat membedakan warna merah, hijau atau biru.

Utamanya, kondisi ini disebabkan oleh bawaan genetik dari lahir. Seseorang dapat mewarisi kondisi yang ringan, sedang, atau berat. Buta warna yang diturunkan biasanya mempengaruhi kedua mata dan tingkat keparahannya tidak berubah sepanjang hidup.

Selain itu, buta warna dapat juga disebabkan oleh kondisi lainnya seperti anemia sel sabit (sickle cell anemia), diabetes, degenerasi makula, Alzheimer, sklerosis multipel, glaukoma, penyakit Parkinson, alkoholisme kronis, dan leukemia.

Tidak hanya itu, kelainan mata ini juga dapat disebabkan oleh obat-obatan tertentu, penuaan, atau paparan bahan kimia berbahaya.

Gejala Buta Warna

Gejala buta warna dapat berkisar dari ringan hingga berat. Seperti dikutip dari situs resmi American Academy of Ophthalmology (AAO), banyak orang yang memiliki gejala ringan tidak menyadari bahwa mereka memiliki buta warna.

Meski begitu, seseorang dengan buta warna cenderung memiliki gejala seperti kesulitan membedakan warna dan kecerahan warna tertentu (buta warna parsial).

Tidak hanya itu, buta warna juga menyebabkan seseorang tidak mampu untuk membedakan antara nuansa warna yang sama atau serupa. Kecuali pada jenis yang paling parah, buta warna tidak mempengaruhi ketajaman penglihatan.

Tipe Buta Warna

Buta warna memiliki beberapa tipe yang berbeda. Dikutip dari laman National Eye Institute, kondisi ini dapat diklasifikasikan menjadi 2 kategori yang memiliki tipenya masing-masing.

Buta warna merah-hijau

Jenis buta warna yang paling umum membuat sulit untuk membedakan antara merah dan hijau. Ini termasuk sebagai jenis buta warna parsial. Ada 4 tipe buta warna merah-hijau yaitu:

  • Deuteranomali: Ini adalah jenis buta warna merah-hijau yang paling umum, membuat hijau terlihat lebih merah. Tipe ini ringan dan biasanya tidak mengganggu aktivitas normal. (bulet)
  • Protanomali: Membuat merah terlihat lebih hijau dan kurang cerah. Tipe ini ringan dan biasanya tidak mengganggu aktivitas normal.
  • Protanopia dan deuteranopia: Keduanya membuat seseorang sama sekali tidak bisa membedakan merah dan hijau.
  • Buta warna biru-kuning.

Jenis buta warna parsial yang kurang umum ini membuat sulit untuk membedakan antara biru dan hijau, dan antara kuning dan merah. Ada 2 jenis buta warna biru-kuning yaitu:

  • Tritanomali: Membuat seseorang kesulitan untuk membedakan antara biru dan hijau, dan antara kuning dan merah.
  • Tritanopia: Membuat seseorang tidak bisa membedakan antara biru dan hijau, ungu dan merah, dan kuning dan merah muda. Itu juga membuat warna terlihat kurang cerah.

Ada juga buta warna langka yang menyebabkan ketidakmampuan untuk melihat warna sama sekali dan melihat segala sesuatu hanya dalam bayangan abu-abu. Kondisi ini disebut akromatopsia atau buta warna total.

Pengobatan Buta Warna

Sayangnya, saat ini, belum ada pengobatan atau terapi untuk buta warna dan penelitiannya masih berjalan. Hal ini dijelaskan oleh dr Zeiras Eka Djamal, SpM, selaku dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center (JEC) Cinere.

Meski begitu, dr Zeiras mengatakan bahwa kacamata khusus untuk mengatasi buta warna sedang dikembangkan.

"Saat ini ada beberapa kacamata yang dikembangkan dan dikatakan bisa membantu seseorang untuk membedakan warna walaupun tidak sempurna," katanya pada detikcom, Senin (1/6/2022).

Pencegahan Buta Warna

Tidak ada cara yang diketahui untuk mencegah buta warna, khususnya buta warna turunan. Meski begitu, seperti dikutip dari laman University of Rochester Medical Center, beberapa cara untuk mengurangi risiko mendapatkan buta warna karena faktor lainnya.

Cara tersebut adalah dengan melakukan tes mata secara reguler, rajin ke fasilitas kesehatan untuk mengecek kesehatan, dan mempraktikkan gaya hidup yang sehat.



Simak Video "Hailey Bieber Ungkap Idap Kista Ovarium Sebesar Buah Apel"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT