Heboh Konten Nakes Berujung Gaduh, Ingat Lagi Etika Bermedsos bagi Dokter

ADVERTISEMENT

Heboh Konten Nakes Berujung Gaduh, Ingat Lagi Etika Bermedsos bagi Dokter

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Jumat, 03 Jun 2022 11:00 WIB
Jakarta -

Viral sejumlah konten yang dibuat oleh tenaga kesehatan di rumah sakit. Sayangnya video viral yang dibuat oleh nakes tersebut tidak berisikan konten kesehatan.

Beberapa waktu lalu heboh yang obgyn mengomentari pasien yang ingin melakukan aborsi atau menggugurkan kandungan. Konten-konten bernada 'nyinyir' ke pasien juga sering ditemui di media sosial.

Sebenarnya bagaimana sih etika bermedsos bagi tenaga kesehatan? Tiap profesi tenaga kesehatan memiliki panduan etik sendiri, termasuk dokter yang bahkan secara detail mengatur etika bermedsos bagi anggotanya.

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia sudah mengeluarkan etika bermedia sosial utnik dokter yang terbit pada 21 April 2021 lalu.

Berikut isi lengkap fatwa MKEK tentang bermedsos untuk dokter yang perlu diketahui:

1. Dokter harus sepenuhnya menyadari sisi positif dan negatif aktivitas media sosial dalam keseluruhan upaya kesehatan dan harus menaati peraturan perundangan yang berlaku.

2. Dokter selalu mengedepankan nilai integritas, profesionalisme, kesejawatan, kesantunan, dan etika profesi pada aktivitasnya di media sosial.

3. Penggunaan media sosial sebagai upaya kesehatan promotif dan preventif bernilai etika tinggi dan perlu diapresiasi selama sesuai kebenaran ilmiah, etika umum, etika profesi, serta peraturan perundangan yang berlaku.

4. Penggunaan media sosial untuk memberantas hoax atau informasi keliru terkait kesehatan atau kedokteran merupakan tindakan mulia selama sesuai kebenaran ilmiah, etika umum, etika profesi serta peraturan perundangan yang berlaku.

Dalam upaya tersebut, dokter harus menyadari potensi berdebat dengan masyarakat. Dalam berdebat di media sosial dokter perlu mengendalikan diri, tidak membalas dengan keburukan, serta menjaga marwah luhur profesi kedokteran.

Apabila terdapat pernyataan yang yang merendahkan sosok dokter, tenaga kesehatan, dokter harus melaporkan hal tersebut kepada otoritas media sosial melalui fitur yang disediakan dan langkah lainnya sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

5. Pada penggunaan media sosial, dokter harus menjaga diri dari promosi diri berlebihan dan prakteknya, serta mengiklankan suatu produk dan jasa sesuai dengan SK MKEK Pusat IDI nomor 022/PB/K.MKEK/07/2020 tentang Fatwa Etika Dokter Beriklan dan Berjualan Multi Level Marketing yang diterbitkan MKEK Pusat IDI tanggal 28 Juli 2020.

6. Pada penggunaan media sosial untuk tujuan konsultasi suatu kasus kedokteran dengan dokter lainnya.

Dokter harus menggunakan jenis dan fitur media sosial khusus yang terenkripsi end-to-end dan tingkat keamanan baik, dan memakai jalur pribadi kepada dokter yang dikonsultasikan tersebut atau pada grup khusus yang hanya berisikan dokter.

7. Pada penggunaan media sosial termasuk dalam hal memuat gambar, dokter wajib mengikuti peraturan perundangan yang berlaku dan etika profesi.

Gambar yang dimuat tidak boleh membuka secara langsung maupun tidak langsung identitas pasien, rahasia kedokteran, privasi pasien atau keluarganya, privasi sesama dokter dan tenaga kesehatan, dan peraturan internal RS atau klinik.

Dalam menampilkan kondisi klinis pasien atau hasil pemeriksaan penunjang pasien untuk tujuan pendidikan, hanya boleh dilakukan atas persetujuan pasien serta identitas pasien seperti wajah dan nama yang dikaburkan.

Hal ini dikecualikan pada penggunaan media sosial dengan maksud konsultasi suatu kasus kedokteran sebagaimana yang diatur pada poin 6.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT