Pengguna Vape di RI Naik 10 Kali Lipat, Pakar Ingatkan Bahayanya

ADVERTISEMENT

Pengguna Vape di RI Naik 10 Kali Lipat, Pakar Ingatkan Bahayanya

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Senin, 06 Jun 2022 05:00 WIB
Rokok elektronik menggunakan baterai bekerja dengan cara memanaskan cairan di dalam tabung atau vaping.
Ilustrasi vape (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 yang dirilis Kementrian Kesehatan RI menunjukkan adanya peningkatan 10 kali lipat pengguna rokok elektrik di Indonesia. Pada tahun 2011 didapati 0,3 persen dan naik ke angka 3 persen di tahun 2021.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI dr Maria Endang Sumiwi menyatakan bahaya rokok elektrik sama dengan rokok konvensional. Ia menambahkan, rokok elektrik mengandung cairan bahan berbahaya yang tidak memiliki standar baku, ini menyebabkan tidak adanya batas aman saat merokok elektrik.

"Rokok elektrik sama bahayanya seperti rokok biasa kan apalagi dia ada cairan bahannya itu yah yang mana tidak ada standar amannya. Jadi kita tidak tau apa yang terkandung di dalamnya jadi tidak ada batas amannya," ujar dr Maria pada acara Radio Kesehatan Kemenkes RI, Jumat (3/6/2022).

"Sama bahaya utamanya karena ada kandungan tembakau bisa menimbulkan adiktif, belum lagi cairan rasa-rasanya itu yang bisa memiliki kandungan berbahaya," sambungnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, juga menyatakan bahwa rokok elektrik bukan solusi untuk mengurangi rokok konvensional.

"Rokok elektrik bukan solusi. Tapi justru jembatan perokok konvensional. Malah jadi perokok elektrik dan konvensional nantinya," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (3/6).

Ketua Kelompok Kerja bidang Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Feni Fitriani Taufik juga menyatakan baik rokok elektrik maupun rokok konvensional sama-sama bisa menimbulkan bahaya bagi tubuh lantaran adanya nikotin yang membuat adiksi atau kecanduan.

"Survei dari RSUP Persahabatan, 76 persen pengguna rokok elektronik juga mengalami adiksi. Itu wajar karena masih ada nikotinnya," beber dr Feni dalam webinar daring Hari Tanpa Tembakau bersama PDPI, Senin (30/5).



Simak Video "Bahaya Vape Vs Rokok"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT