ADVERTISEMENT

Rabu, 08 Jun 2022 10:01 WIB

BPOM RI Wajibkan Air Minum Dalam Kemasan Diberi 'Warning' Jika Pakai Bahan Ini

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Viostin DS dan Enzyplex Ditarik Dari Peredaran

Kepala Bada Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito melakukan jumpa pers terkait perkembangan kasus pelanggaran produk Viostin DS dan Enzyplex yang mengandung DNA babi di Jakarta, Senin (5/6/2018). Dalam hasil penyelidikan BPOM, kedua produk tersebut positif mengandung DNA babi. Atas temuan ini kedua produk tersebut ditarik dari peredaran. Grandyos Zafna/detikcom Kepala BPOM Penny K Lukito. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) merevisi Peraturan Badan POM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Sejumlah air minum dalam kemasan (AMDK) yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat (PC) wajib diberikan warning label 'berpotensi mengandung BPA'.

BPA merupakan singkatan dari bisphenol A, umumnya dipakai dalam pembuatan botol kemasan plastik termasuk galon isi ulang di pasaran. Ada kekhawatiran kandungan BPA bermigrasi pada air minum dalam kemasan sehingga berbahaya bagi kesehatan.

Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut kewaspadaan serupa migrasi BPA pada air minum dalam kemasan juga menjadi perhatian dunia.

Bahkan beberapa negara seperti Prancis, Brasil hingga Columbia di Amerika Serikat telah melarang penggunaan BPA pada kemasan air minum lantaran risiko paparan senyawa kimia akibat terjadinya migrasi, bisa memicu kanker, kemandulan, hingga gangguan fungsi reproduksi.

Di Indonesia, persyaratan batas migrasi Bisfenol A pada kemasan plastik PC ditetapkan sebesar 0,6 bagian per juta (bpj atau ppm), di luar ambang batas tersebut disebut tidak layak dikonsumsi. BPOM melaporkan temuan per 2021 hingga 2022, setidaknya ada 3,4 persen sampel pangan di peredaran yang tidak memenuhi syarat batas maksimal migrasi BPA air minum dalam kemasan.

Penny merinci, hasil uji migrasi BPA cukup mengkhawatirkan ditemukan di sarana peredaran sebesar 46,97 persen produk dan di sarana produksi 30,91 persen. Sementara di sarana produksi kandungan BPA berisiko terhadap kesehatan ditemukan pada 5 persen sampel galon baru dan di sarana peredaran mencapai 8,67 persen.

"Sehingga dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dan memberikan informasi yang benar dan jujur, BPOM berinisiatif untuk melakukan pengaturan pelabelan AMDK pada kemasan plastik," tutur Penny dalam pernyataan tertulis yang diterima detikcom Rabu (8/6/2022).

Adapun label yang diberikan dalam AMDK adalah seperti berikut:

  • Simpan di tempat bersih dan sejuk
  • Hindarkan dari matahari langsung dan benda-benda tajam
  • Pencantuman label 'berpotensi mengandung BPA' pada produk AMDK yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat.

"Namun demikian pencantuman label berpotensi mengandung BPA dikecualikan untuk produk AMDK dengan nilai Limit of Detection kurang dari 0,01 bpj dan migrasi BPA dari kemasan plastik polikarbonat memenuhi ketentuan perundang-undangan," demikian keterangan BPOM.



Simak Video "Aktivis Lingkungan Kritisi Penggunaan Galon Sekali Pakai"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT