ADVERTISEMENT

Rabu, 08 Jun 2022 11:01 WIB

Cegah Penyakit, RI Didorong Terapkan Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan

Firdaus Anwar - detikHealth
Sugar, calories in fizzy carbonated soft drinks, cola. Foto ilustrasi: Thinkstock
Jakarta -

Pemerhati kesehatan melihat tren penyakit tidak menular, seperti obesitas dan diabetes, di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan. Hal ini berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang melihat proporsi penyakit tidak menular meningkat dua kali lipat dari 10,3 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018.

Terkait hal tersebut, Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) mendorong pemerintah agar menerapkan kebijakan cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Ini karena kebiasaan mengonsumsi produk tersebut bisa berkontribusi terhadap tingginya angka penyakit tak menular di masyarakat.

"Data dari Susenas ternyata menunjukkan konsumsi masyarakat terhadap MBDK dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kalau kita lihat dalam dua dekade terakhir peningkatannya itu bahkan sampai 15 kali lipat," kata salah satu peneliti CISDI, Gita Kusnadi, dalam konferensi pers daring dan dikutip pada Rabu (8/6/2022).

"Ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan konsumsi MBDK tertinggi di Asia Tenggara," lanjutnya merujuk pada data penelitian yang memperlihatkan orang Indonesia bisa mengonsumsi sampai 20,23 liter MBDK dalam setahun.

Lewat penerapan cukai harga MBDK diharapkan akan menjadi lebih tinggi sehingga dapat mengurangi minat masyarakat untuk mengonsumsinya.

dr Rudy Kurniawan, SpPD, DipTH, selaku pendiri Komunitas Sobat Diabet turut menyetujui ide penerapan cukai untuk MBDK. Tapi, menurutnya ini juga harus dibarengi dengan edukasi untuk masyarakat.

Tujuannya agar masyarakat benar-benar paham mengapa pada akhirnya konsumsi MBDK harus dibatasi.

"Cukai ini menjadi salah satu cara agar orang-orang nggak banyak makan dan minum manis. Tapi lebih baik edukasi, pendidikan tentang kesehatan basic nutrision gula, garam, dan lemak," kata dr Rudy dalam kesempatan yang sama.

"Kalau tidak ada konsumen dari awal, terdidik untuk tidak mengonsumsi manis-manis, otomatis perusahaan akan menyesuaikan juga," pungkasnya.



Simak Video "Ahli Gizi Jawab soal Diet Harus Batasi Garam dan Gula"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT