ADVERTISEMENT

Kamis, 09 Jun 2022 16:30 WIB

Epidemiolog Prediksi COVID-19 RI 'Ngegas' Lagi Gegara Ada Varian Baru

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Epidemiolog prediksi COVID-19 RI 'ngegas' lagi gegara ada varian baru. Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Peningkatan kasus harian COVID-19 meningkat pada Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Kasus positif mingguan tercatat mengalami kenaikan 571 kasus, sementara kasus aktif harian naik 328 atau 10 persen, dari 3.105 kasus pada 2 Juni menjadi 3.433 kasus.

Epidemiolog dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menyatakan kenaikan kasus yang terjadi ini bukan dikarenakan mobilitas masyarakat. Menurutnya tidak ada hubungan antara mobilitas masyarakat dengan kenaikan kasus harian.

"Menurut saya kenaikan itu tidak ada kaitannya dengan mobilitas penduduk. Memang mobilisasi bisa menjadi faktor menyebarnya penyakit, namun sekarang ini mobilisasi sudah normal dan tidak sebabkan kenaikan," ujarnya saat dihubungi detikcom, Kamis (9/6/2022).

Masdalina berpendapat masih ada faktor-faktor lain yang diduga bisa menyebabkan kenaikan kasus harian COVID-19, seperti adanya varian baru yang belum dominan dan kapasitas testing COVID-19.

"Ada faktor lain misal adanya varian baru tapi belum dominan, artinya kasusnya tidak sampai 50 persen, masih aman," ujarnya.

Menurutnya testing COVID-19 berpengaruh juga pada besarnya kenaikan kasus harian COVID-19 dan penting untuk dilakukan dengan metode tepat.

"Testing itu kan walaupun nggak harus semua yang penting bergejala perlu testing, jika testingnya rendah maka hasilnya rendah juga, semakin banyak ya ada kemungkinan meningkat. Jadi tetap perhatikan metode yang tepat," sambungnya.

Sementara itu, ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono menyatakan kenaikan yang terjadi masih dalam kategori normal dan terkendali.

"Kenaikan ini normal kita tidak bisa 100 persen, kan sudah ada aktivitas tapi yang jadi kunci itu imunitas masyarakat," ucapnya pada detikcom, Kamis (9/6/2022).

Menurut Pandu vaksin booster membuat mobilitas warga bisa terkendali karena terbentuknya antibodi yang tinggi sehingga tidak menimbulkan lonjakan kasus besar.

"Coba lihat saat vaksin booster jadi syarat mudik, itu eksperimen penting dan berhasil. Sekarang kita tidak melihat kekhawatiran adanya kenaikan saat setelah mudik lebaran karena sudah banyak antibodi yang tinggi, dan terbukti," pungkasnya.



Simak Video "Kasus Harian Covid-19 Jepang Tembus 100.000"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT