Omicron BA.4 dan BA.5 Masuk RI, Yakin Baru Ada 4 Kasus?

ADVERTISEMENT

Omicron BA.4 dan BA.5 Masuk RI, Yakin Baru Ada 4 Kasus?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jumat, 10 Jun 2022 19:00 WIB
Sebanyak 17 murid SMAN 2 Bantul, DIY, terkonfirmasi positif COVID-19. Pihak sekolah pun menggelar swab massal kepada guru dan siswa.
Epidemiolog mengungkapkan potensi situasi COVID-19 di RI kini merupakan fenomena 'gunung es'. Foto: Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko
Jakarta -

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sudah masuk Indonesia sejak Mei 2022, teridentifikasi pada empat kasus di Bali sejak Kamis (10/6/2022) malam. Diduga, kedua subvarian ini memicu kenaikan kasus COVID-19 RI sepekan terakhir.

"Kenaikan sesudah hari raya itu antara 27 hari sampai 35 hari, sejak hari raya besar Natal ataupun Lebaran, ini Lebaran kita kan kemarin 2 Mei, kok nggak naik, ya belum naik, karena kan biasanya kejadiannya 27 sampai 35 hari jadi kenaikan itu pertama normal setiap hari raya besar pasti ada kenaikan," ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jumat (10/6/2022).

"Kedua, kita juga ada varian baru, varian baru juga sudah kita identifikasi tadi malam, tapi itu sebenarnya kejadiannya di akhir bulan Mei. Nah dari dua fakta itu memang pasti akan ada kenaikan," imbuh Menkes.

Waswas Kasus COVID-19 RI bak Fenomena 'Gunung Es'

Seiring itu, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyorot rendahnya kapasitas deteksi kasus COVID-19 hampir di seluruh wilayah Indonesia. Terlebih, banyak pasien COVID-19 tidak bergejala sehingga peningkatan kasusnya tidak bisa langsung terlihat. Imbasnya lebih lanjut, penularan pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak berusia lima tahun ke bawah menjadi tak terdeteksi.

"Kita harus waspadai dengan kesadaran bahwa dalam penyebaran penyakit COVID-19 ini fenomena puncak gunung es itu selalu terjadi. Kemudian juga kita harus waspadai karena COVID ini didominasi oleh kasus yang tidak bergejala. Artinya, kasus sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Namun karena mereka tidak bergejala (menjadi tidak terdeteksi)," terang Dicky pada detikcom, Jumat (10/6/2022).

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT