Geger Wanita Simpan Jasad 7 Janin Selama 10 Tahun, Ini Risiko Aborsi Berulang

ADVERTISEMENT

Geger Wanita Simpan Jasad 7 Janin Selama 10 Tahun, Ini Risiko Aborsi Berulang

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Minggu, 12 Jun 2022 11:01 WIB
Garis polisi, police line. Rachman Haryanto ilustrasidetikfoto
Geger wanita menyimpan tujuh janin bayi selama 10 tahun, ini risiko aborsi berulang. (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta -

Geger wanita berinisial NM di Makassar, Sulawesi Selatan, ditangkap polisi karena kasus aborsi tujuh janin bayi yang ditemukan membusuk di kotak makan, disimpan di kamar kosnya. NM menyebut sengaja menyimpan tujuh janin tersebut hingga menunggu dinikahi sang kekasih yang menghamilinya.

NM terus menyimpan janin-janinnya agar menjadi pegangan jika mereka akan menikah di kemudian hari. Belakangan terungkap, pria berinisial SM (30) tidak kunjung menikahi NM karena beralasan tidak direstui orangtua hingga mengaku belum siap berumah tangga.

"Dari pihak laki-laki orang tuanya tak menyetujui," ungkap Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Reonald Truly Sohomuntal Simanjuntak kepada wartawan, Jumat (10/6).

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo SpOG ikut mengomentari kasus tersebut. Ia menjelaskan risiko di balik melakukan aborsi secara paksa lebih dari dua kali atau terus berulang.

dr Hasto menyebut aksi tersebut dinamai abortus provokatus atau aborsi yang dilakukan secara sengaja karena memakai alat atau obat-obatan. Aborsi semacam ini sangat berisiko karena membuat mulut rahim rawan infeksi akibat luka terbuka dari plasenta janin yang lepas.

Bahkan, infeksinya bakal lebih parah jika pembersihan rahim tidak optimal dan tidak sterilnya alat yang dipakai untuk melakukan aborsi.

Risiko kematian pada ibu bayi juga tinggi lantaran mengalami perdarahan hebat. Terlebih, aborsi terlalu sering bisa menekan peluang memiliki anak di masa kehamilan selanjutnya.

Hal ini dikarenakan habit abortus atau kebiasaan aborsi bisa membuat mulut rahim tidak mengunci rapat atau terlalu kendur sehingga di kehamilan usia tiga sampai empat bulan, janin bisa keluar dengan sendirinya.

"Dia (wanita yang aborsi tujuh kali) itu hanya sedang beruntung saja (saat menggugurkan secara berulang). Kalau suatu saat tidak beruntung, ketika memaksa rahim dibuka paksa, itu risikonya perdarahan hebat dan bisa juga kena infeksi karena dipaksa dengan alat yang tidak steril. Akhirnya bernanah bisa memiliki peluang tidak bisa hamil lagi," beber dr Hasto dalam agenda daring, ditulis Minggu (12/6/2022).



Simak Video "Sikap WHO Terkait Pencabutan Hak Aborsi 'Roe v Wade' di AS"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT