ADVERTISEMENT

Selasa, 14 Jun 2022 12:06 WIB

Akademisi-Asosiasi Industri Dukung Pelabelan BPA Galon Air Minum

Jihaan Khoirunnisa - detikHealth
Ilustrasi kandungan BPA dalam botol minum plastik. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Rencana regulasi pelabelan risiko Bisfenol A atau BPA oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendapat dukungan dari banyak pihak. Dukungan tersebut datang dari kalangan akademisi, peneliti, hingga asosiasi industri.

Diketahui, BPA merupakan bahan kimia pada kemasan, seperti galon plastik keras yang bisa menyebabkan kanker dan kemandulan.

"Masyarakat banyak yang belum mengetahui bahaya paparan BPA," kata Guru Besar Bidang Pemrosesan Pangan Departemen Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Prof. Andri Cahyo Kumoro dalam keterangan tertulis, Selasa (14/6/2022). Hal tersebut disampaikannya dalam sebuah diskusi publik di Jakarta pekan lalu.

Andri menilai pelabelan BPA pada kemasan galon merupakan langkah tepat untuk mendidik masyarakat.

"Di Indonesia, produsen mengangkut air galon dengan santai, galon kerap terpapar sinar matahari langsung, terguncang-guncang. Ini sangat berpotensi menjadikan BPA terlepas dengan cepat," ujarnya.

"Saran saya produsen beralih ke kemasan yang lebih aman, yang bebas BPA," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia yang sekaligus ahli penyakit dalam Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo menekankan pentingnya label risiko BPA. Menurutnya, senyawa tersebut bisa berdampak pada perkembangan kanker dalam tubuh manusia.

"Bukan tanpa alasan, sebab zat kimia tersebut rupanya mampu menyerupai hormon estrogen," katanya.

Hal serupa diungkapkan ahli epidemologi dari Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, Pandu Riono. Menurut Pandu, penelitian dan riset mutakhir di berbagai negara semakin menguatkan bukti ilmiah tentang ancaman BPA pada wadah minuman dan makanan.

"Industri sebaiknya memilih wadah yang lebih aman," katanya.

Dia pun menekankan pentingnya kerja sama pemerintah dan ilmuwan untuk mengedukasi publik soal risiko BPA.

Dari Surabaya, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Junaidi Khotib, juga mendorong agar pemerintah dapat melakukan upaya agar masyarakat tidak terus-menurus terpapar BPA.

"BPOM bisa memperkecil peluang paparan risiko BPA melalui pemberian label pada kemasan makanan dan minuman," katanya.

"Itu bagian dari edukasi publik sekaligus bentuk perlindungan untuk masa depan anak-anak Indonesia," lanjutnya.

Halaman Selanjutnya: Dukungan Industri dan Asosiasi

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT