Kamis, 16 Jun 2022 13:30 WIB

Menkes Prediksi COVID-19 Harian RI Tembus 20 Ribu Kasus, Begini Hitungannya

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Pandemi COVID-19 DKI Jakarta makin hari makin terkendali. Salah satu indikatornya persentase kasus positif COVID-19 sudah berada di angka 0,9 persen. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memprediksi kasus COVID-19 harian bakal tembus 20 ribu per hari. Ia juga mengungkap puncaknya bakal terjadi di akhir Juli 2022 dan tidak separah gelombang varian sebelumnya. Diperkirakan hanya sepertiga dari puncak kasus varian Delta dan Omicron.

"Kira-kira nanti estimasi berdasarkan data di Afrika Selatan, mungkin puncaknya di 20 ribu per hari. Karena kita pernah sampai 60.000 per hari paling tinggi," jelas Menkes di Istana Kepresidenan, Bogor, Kamis (16/6/2022).

Sebagai gambaran, puncak gelombang varian Delta diyakini terjadi pada 15 Juli 2021 dengan total 56.757 kasus dalam sehari.

Sedangkan puncak gelombang Omicron tidak pernah secara tegas dideklarasikan. Dalam beberapa kesempatan, Satgas COVID-19 menyebut puncak gelombang Omicron terjadi pada 20 Februari 2022, ketika jumlah kasus harian mulai menurun. Pada tanggal tersebut, tercatat ada 48.484 kasus dengan rata-rata dalam 7 hari sebesar 55.675 kasus.

Namun jika dilihat dari kasus harian, angka tertinggi pada gelombang Omicron dicapai pada 16 Februari 2022 dengan 64.718 kasus dalam sehari. Dalam konferensi pers sebelumnya, Menkes menyinggung bahwa puncak gelombang Omicron BA.4 dan BA.5 kali ini diperkirakan sepertiga dari gelombang-gelombang sebelumnya.

"Memang di beberapa negara dunia mengalami kenaikan kasus dan konsisten penyebabnya adalah varian baru BA.4 dan BA.5. Kami juga mengamati khususnya di Afrika Selatan di mana varian BA.4 dan BA.5 ini pertama kali teridentifikasi dan hasil pengamatan kami bahwa puncak dari penularan varian BA.4 dan BA.5 ini sekitar sepertiga dari puncak Delta dan Omicron," terangnya, Senin (13/6/2022).

Meskipun demikian, Budi menjelaskan bahwa kasus fatality rate atau kematiannya akibat subvarian Omicron bA.4 dan BA.5 jauh lebih rendah daripada Delta dan Omicron, hanya seperdua belas atau sepersepuluh.

"Tetapi yang kita lihat fatality rate-nya atau kematiannya itu jauh lebih rendah mungkin seperdua belas atau sepersepuluh dari Delta dan Omicron," sambung Menkes.



Simak Video "Pascalebaran, Kasus Covid-19 di RI Meningkat Namun..."
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)