ADVERTISEMENT

Jumat, 17 Jun 2022 16:15 WIB

Ssst! Ada Kabar Baik Soal Omicron, Terungkap dalam Studi Terbaru

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Different colors of the spike proteins symbolize different mutations. Coronavirus pattern on dark blue background. The pale viruses are different in size. Omicron baru BA.4 dan BA.5. (Foto: Getty Images/iStockphoto/i-am-helen)
Jakarta -

Studi terbaru menyatakan COVID-19 varian Omicron menimbulkan dampak long COVID lebih rendah dibanding varian Delta.

Penelitian yang dilakukan oleh King College London ini menemukan bahwa kemungkinan long COVID dari varian Omicron lebih rendah 20 hingga 50 persen dibandingkan varian Delta. Angka tersebut bervariasi tergantung pada usia pasien dan waktu vaksinasi terakhir mereka.

"Ini kabar baik, tapi tolong jangan hentikan layanan perawatan long COVID Anda yang lama," pesan ketua peneliti Dr Claire Steves kepada penyedia layanan kesehatan, dikutip dari Reuters, Jumat (17/6/2022).

Studi ini diyakini sebagai penelitian akademis pertama yang menunjukkan Omicron tidak menimbulkan risiko besar menimbulkan long COVID, tetapi itu tidak berarti jumlah pasien long COVID menurun, kata tim peneliti tersebut.

Long COVID merupakan gejala berkepanjangan pada pasien COVID-19 yang telah dinyatakan negatif virus Corona namun masih merasakan gejala kelelahan hingga 'brain fog' yang membuat seseorang sulit berkonsentrasi. Kondisi ini dapat berlanjut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Menurut penelitian tersebut walaupun risiko long COVID pada varian Omicron rendah namun kasus penularan pada varian ini tetap tinggi.

Penelitian ini juga menunjukkan gejala lanjutan setelah terkena varian Omicron lebih rendah dibanding varian Delta bagi pasien yang telah menerima dua kali dosis vaksin.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT