Rabu, 22 Jun 2022 19:00 WIB

Puncak BA.4 dan BA.5 Diprediksi Tercapai Juli, Akan Bertahan Berapa Lama?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Tanggapan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) perihal prediksi puncak BA.4 dan BA.5 di RI tiba Juli mendatang. Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memprediksi puncak COVID-19 RI imbas subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 kali ini akan tiba di minggu kedua atau ketiga Juli mendatang. Juga disebutkan, jumlah kasus pada puncak kali ini hanya akan mencapai sepertiga dari puncak Delta dan Omicron.

Akan berapa gelombang Corona di RI kali ini berlangsung? Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan tanggapannya.

"Itu tergantung situasi kita. Semakin kita disiplin, bisa jadi laju penularannya menurun. Belajar dari Afrika Selatan yang kasusnya terjadi peningkatan hanya 30 persen dari yang Omicron BA.1," ujar anggota Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular Pengurus Besar (PB) IDI dr Erlina Burhan saat ditemui detikcom dalam Media Briefing Kewaspadaan Kenaikan Kasus COVID-19 dan Penyakit Menular Lainnya di Sekretariat PB IDI, Jakarta Pusat, Selasa (21/6/2022).

"Kami sih tidak menghitung secara precise bahwa puncaknya terjadi di akhir Juli. Tapi kalau kita mendengarkan dari Kementerian Kesehatan yang mereka punya timnya yang betul-betul menghitung secara detail mengatakan nanti di akhir-akhir Juli which is akan segera. Jadi ayo kita patahkan prediksi itu dengan meningkatkan protokol kesehatan," sambungnya.

dr Erlina menambahkan, prediksi yang ada perlu disikapi dengan antisipasi, bukan sikap sekedar tahu. Tak lain, dengan tetap diterapkannya protokol kesehatan.

Seiring itu PB IDI juga menganjurkan masker kembali digunakan saat warga berada di area terbuka. Mengingat Presiden RI Joko Widodo sempat menyampaikan pelonggaran aturan pakai masker di ruang terbuka dengan kerumunan tidak padat pada pertengahan Mei lalu.

Dalam kesempatan sebelumnya, Menkes menyebut jumlah kasus pada puncak, tingkat hospitalitasi, dan kematian akibat COVID-19 pada puncak kali ini akan lebih rendah dibanding gelombang Corona sebelumnya.

"Hasil pengamatan kami bahwa puncak dari penularan varian BA.4 dan BA.5 ini sekitar sepertiga dari puncak Delta dan Omicron. Kasus hospitalisasinya juga sepertiga dari kasus hospitalisasi Delta dan Omicron. Sedangkan kasus kematiannya sepersepuluh dari kasus kematian Delta dan Omicron," ujarnya dalam siaran langsung 'Keterangan Pers Menteri Terkait Rapat Terbatas Evaluasi PPKM', Senin (13/6).

"Pengamatan kami ini gelombang BA.4 dan BA.5 biasanya puncaknya tercapai 1 bulan setelah penemuan kasus pertama. Jadi seharusnya di minggu kedua Juli, minggu ketiga Juli kita akan lihat puncak kasus dari BA.4 dan BA.5 ini," lanjut Menkes.



Simak Video "Subvarian BA.4 dan BA.5 Ngegas, WHO Pastikan Vaksin Masih Ampuh"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)