Jumat, 24 Jun 2022 17:30 WIB

WHO Kaji Cacar Monyet Jadi 'Darurat' Kesehatan Global, Bakal Seperti COVID?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Geneva, Switzerland - December 03, 2019: World Health Organization (WHO / OMS) Logo at WHO Headquarters Foto: Getty Images/diegograndi
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan bakal segera memutuskan apakah cacar monyet akan berstatus darurat kesehatan global. Hal ini menimbulkan kritik dari para ilmuwan terkemuka Afrika yang menyebut cacar monyet sudah menjadi krisis di wilayah mereka selama bertahun-tahun.

Dikutip dari Channel News Asia, WHO mempertimbangkan status darurat kesehatan global berkaca pada apa yang terjadi pada status COVID-19 di awal 2020. Status darurat kesehatan global yang dimaksud yakni Public Health Emergency International Concern (PHEIC), tingkat tertinggi kewaspadaan WHO.

Seperti diketahui, cacar monyet tidak menyebar semudah COVID-19 dan vaksin serta perawatan sudah tersedia, tidak seperti saat virus Corona SARS CoV-2 muncul. Namun, WHO masih meningkatkan alarm kewaspadaan, usai cacar monyet dilaporkan di sejumlah negara.

Jumlah kasus cacar monyet di luar Afrika telah mencapai 3.000 kasus, di lebih dari 40 negara. Menurut Reuters, sebagian besar kasus terjadi pada pria yang berhubungan seksual dengan pria. Sejak pertama kali dilaporkan pada Mei lalu, belum ada kasus kematian yang dicatat.

Virus ini memicu gejala seperti flu dan lesi kulit, ia sempat dinyatakan endemik di beberapa negara bagian Afrika, dengan catatan 1.500 kasus sejak awal 2022, 66 di antaranya berakhir fatal menurut data resmi.

"Ketika suatu penyakit menyerang negara berkembang, itu bukan keadaan darurat. Ini hanya menjadi keadaan darurat ketika negara-negara maju terkena dampaknya," kata Profesor Emmanuel Nakoune, pejabat direktur Institut Pasteur di Bangui, Republik Afrika Tengah, yang menjalankan uji coba pengobatan cacar monyet.

Namun, Nakoune mengatakan jika WHO menyatakan keadaan darurat, itu akan tetap menjadi langkah penting.

"Jika ada kemauan politik untuk berbagi secara adil sarana respons antara negara maju dan berkembang, masing-masing negara akan dapat diuntungkan," katanya.

WHO mengadakan pertemuan tertutup para ahli di Jenewa, Kamis (26/6/2022). Masih belum jelas kapan keputusan itu akan diumumkan.

Pertemuan komite darurat pada hari Kamis termasuk para ahli dari daerah yang paling terkena dampak, yang juga telah berkonsultasi dengan para ilmuwan termasuk Nakoune. Mereka akan membuat rekomendasi kepada Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang membuat keputusan akhir tentang apakah akan mengumumkan cacar monyet sebagai darurat kesehatan global.

Langkah ini terutama berfungsi untuk membunyikan alarm, dan dapat meminta panduan lebih lanjut dari WHO, serta memusatkan perhatian di antara negara-negara anggota. WHO telah memberikan panduan terperinci tentang wabah tersebut dan mengatakan sedang mengerjakan mekanisme untuk berbagi perawatan dan vaksin.

Kebanyakan ahli setuju bahwa cacar monyet secara teknis memenuhi kriteria definisi darurat WHO. Menurut mereka, ii adalah peristiwa yang tiba-tiba dan tidak biasa menyebar secara internasional, dan membutuhkan kerja sama lintas negara.

"Tetapi WHO berada dalam posisi genting setelah COVID-19," demikian menurut Clare Wenham, asisten profesor kesehatan global di London School of Economics.

"Jika WHO menyatakan keadaan darurat dan negara-negara tidak bertindak, itu dapat merusak peran badan tersebut dalam mengendalikan penyakit global," katanya. "Mereka terkutuk jika melakukannya, dan terkutuk jika tidak," tambahnya.



Simak Video "Tedros: WHO Tidak Merekomendasikan Vaksinasi Massal Cacar Monyet"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)