ADVERTISEMENT

Sabtu, 02 Jul 2022 16:00 WIB

Terpopuler Sepekan

Muncul Wacana Legalisasi Ganja Medis di Indonesia, Nantinya Bakal Boleh Dipakai?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Sepekan ini media sosial diramaikan oleh aksi Ibu Santi Warastuti yang menyuarakan aspirasinya di Car Free Day (CFD) Jakarta. Anaknya, Pika, mengidap cerebral palsy atau kelumpuhan otak dan membutuhkan penanganan menggunakan ganja medis.

"Tolong, anakku butuh ganja medis," tertera dalam poster yang dibawanya saat CFD. Foto poster tersebut kemudian viral di media sosial dan menuai simpatik banyak warganet.

Menyusul kejadian tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, menyatakan Indonesia perlu memulai kajian tentang pemanfaatan tanaman ganja untuk kepentingan medis. Menurutnya pada akhir 2020, Komisi Narkotika PBB (CND) sudah mengeluarkan ganja dan resin ganja dari Golongan IV Konvensi Tunggal tentang Narkotika tahun 1961. Artinya, ganja tidak termasuk daftar narkoba paling berbahaya yang tidak memiliki manfaat medis.

"Terlepas Indonesia akan melakukan program ganja medis atau tidak nantinya, riset adalah hal yang wajib dan sangat penting dilakukan untuk kemudian menjadi landasan bagi pengambilan kebijakan atau penyusunan regulasi selanjutnya," beber Charles dikutip dari situs resmi DPR RI, Selasa (28/6/2022).

"Riset medis harus terus berkembang dan dinamis demi tujuan kemanusiaan. Demi menyelamatkan kehidupan Pika, dan anak penderita radang otak lain, yang diyakini sang ibunda bisa diobati dengan ganja. Negara tidak boleh tinggal berpangku tangan melihat 'Pika-Pika' lain yang menunggu pemenuhan hak atas kesehatannya," pungkasnya.

Kemudian dalam kesempatan lainnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut pemerintah kini mengkaji pembukaan akses penelitian terkait ganja medis. Menkes juga menjabarkan kaitan fungsi ganja dengan morfin. Sebagaimana diketahui, morfin masuk ke dalam golongan opium atau narkotik namun bisa digunakan untuk keperluan medis.

"Ganja sebentar lagi akan keluar regulasinya untuk research, bahwa dimanfaatkan untuk research," ungkap Budi saat berbincang dengan wartawan di Gedung Kemenkes RI, Jakarta Selatan, Rabu (29/6).

"Ganja itu sama seperti morfin, bahkan lebih keras dari ganja. Itu (morfin-red) kan bisa dipakai untuk yang bermanfaat," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT