Bayi dari Hubungan Inses Meninggal Setelah Lahir, Ini Risiko Perkawinan Sedarah

ADVERTISEMENT

Bayi dari Hubungan Inses Meninggal Setelah Lahir, Ini Risiko Perkawinan Sedarah

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Senin, 04 Jul 2022 18:30 WIB
Newborn child baby having a treatment for jaundice under ultraviolet light in incubator. A neonatal intensive care unit (NICU), intensive care nursery (ICN) for premature newborn infants
Bayi dari hubungan inses meninggal dua jam setelah lahir. (Foto: iStock)
Jakarta -

Seorang bayi yang lahir dari hubungan inses atau sedarah meninggal dua jam setelah dilahirkan akibat mengalami kondisi medis yang serius. Dikutip dari DailyStar, Senin (4/7/2022), bayi malang asal Dustlik, Uzbekistan yang lahir pada 4 Juni 2022 lalu mengalami cacat lahir yang parah karena orang tuanya merupakan saudara kandung.

"Ia dilahirkan dengan ichthyosis bawaan yang parah, serta cacat lahir lainnya yang mengancam jiwa," kata Kementerian Kesehatan Uzbekistan.

Ichthyosis congenita adalah sebuah penyakit bawaan yang menyebabkan kulit di seluruh tubuh menjadi kering, pecah-pecah, dan bersisik tebal.

Dalam rubrik konsultasi detikHealth, pakar genetika dr Teguh Haryo Sasongko menjelaskan bahwa pernikahan dengan sesama kerabat hingga sepupu II (great grandparents yang sama) disebut sebagai consanguineous marriage atau secara umum diterjemahkan sebagai perkawinan sedarah.

Menurut dr Teguh, keturunan dari perkawinan sedarah memiliki risiko lebih besar menderita penyakit-penyakit genetik tertentu.

"Penelitian-penelitian secara populasional menunjukkan bahwa anak-anak hasil perkawinan sedarah ini memiliki risiko lebih besar menderita penyakit-penyakit genetik tertentu. Terutama yang sifat penurunannya autosomal recessive. Pada sifat penurunan seperti ini, pembawa (carrier) tidak akan menunjukkan tanda-tanda penyakit apapun," jelasnya.

"Sementara itu karena orang-orang dalam satu keluarga memiliki proporsi materi genetik yang sama, maka suami istri yang memiliki hubungan saudara juga memiliki risiko membawa materi genetik yang sama," sambungnya.

Menurut dr Teguh, besaran risiko tergantung juga pada seberapa dekat kekerabatannya.

Jika salah satu adalah carrier suatu penyakit autosomal recessive maka terdapat kemungkinan bahwa yang lain juga pembawa. Seberapa besar kemungkinannya bergantung pada seberapa dekat kekerabatannya," bebernya.

Terakhir ia menyatakan, anak yang dihasilkan dari perkawinan (sedarah maupun tidak) di mana kedua orang tuanya adalah pembawa suatu penyakit genetik autosomal recessive dapat menderita penyakit tersebut (dengan kemungkinan 25%), dapat menjadi carrier juga (dengan kemungkinan 50%) atau sama sekali sehat dan bukan carrier (dengan kemungkinan 25 persen).



Simak Video "WHO Soroti Hal Ini Terkait Ancaman Cacar Monyet yang Kian Serius"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT