ADVERTISEMENT

Rabu, 06 Jul 2022 21:30 WIB

Wacana Booster Buat Syarat Aktivitas, Apa Jadinya Kalau Banyak yang Protes?

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Di tengah kewaspadaan penyebaran varian Omicron di Indonesia, vaksinasi COVID-19 terus digencarkan. Hingga kini sudah 157 juta warga RI divaksin dosis pertama. Wacana booster buat syarat aktivitas, apa jadinya kalau banyak yang protes? Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pemerintah berencana mewajibkan vaksinasi booster untuk kegiatan publik. Dalam dua pekan ke depan, vaksin booster atau dosis ketiga akan menjadi syarat mulai dari masuk mal sampai bepergian.

"Pemerintah akan kembali menerapkan kebijakan insentif dan disinsentif dengan kembali mengubah dan memberlakukan persyaratan vaksinasi booster sebagai syarat mobilitas masyarakat ke area publik," beber Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangannya dikutip dari Antara News, Rabu (6/7/2022).

Capaian vaksinasi booster atau dosis ketiga di Indonesia memang cenderung masih rendah. Data dari Kemenkes per Rabu (6/7), baru sekitar 24,58 persen yang menerima vaksin dosis ketiga dari total sasaran target atau 51 juta orang.

Bagaimana jika rencana pemerintah untuk mewajibkan booster ini mengalami penolakan atau resistensi dari masyarakat?

Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono menyatakan bahwa resistensi dan penolakan ada kemungkinan terjadi. Maka dari itu ia menyarankan pemerintah untuk mengubah kategori vaksinasi lengkap menjadi vaksin dua dosis ditambah dosis ketiga atau booster.

"Memang ada kemungkinan ya, resistensi kan karena gak paham. Sebagian besar pelaku perjalan sudah di booster seharusnya, makannya saran saya diperluas ke publik yang disebut vaksin lengkap sudah dengan booster," ucapnya pada detikcom, Rabu (6/7/2022).

Menurut Pandu, masyarakat yang sudah mendapat vaksinasi booster terbukti memiliki antibodi tinggi. Booster menurutnya juga membuat kasus penyeberan akibat subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 tidak menyebabkan lonjakan signifikan.

"Dari data yang sudah booster kadar antibodi tinggi sekali sedang yang tidak di booster tidak begitu tinggi," ujarnya.

"Karena kita menghadapi virus yang bermutasi, walaupun Jakarta sudah mendominasi BA.4 dan BA.5, buktinya dengan booster tidak adanya kenaikan kasus yang sangat signifikan," pungkasnya.



Simak Video "Kapan Vaksin Booster Dosis Kedua Covid-19 Diberikan untuk Umum?"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT