ADVERTISEMENT

Kamis, 14 Jul 2022 06:00 WIB

Positivity Rate 'Gaspol', Cakupan Vaksin Booster RI Masih di Bawah Standar!

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Pemerintah terus mengebut vaksinasi booster untuk mengendalikan pandemi Corona. Saat ini posko yang terus sibuk melayani warga berada di Taman Swakarsa Pondok Kelapa, Jaktim. Booster Vaksin COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Indonesia mencatat penambahan kasus baru COVID-19 sebanyak 3.822 pada Rabu (13/7/2022). Tren kenaikan juga terjadi pada positivity rate mingguan yang sudah berada di atas standar WHO, yakni 5,12 persen.

Juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) Mohammad Syahril mengatakan, pihaknya telah melakukan persiapan untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus pada puncak gelombang subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang diprediksi terjadi pertengahan Juli ini.

"Kita telah menyiapkan tempat isolasi mandiri juga contohnya wisma atlet, dan memberi edaran ke rumah sakit untuk menyiapkan tempat tidur untuk pasien COVID-19," ucapnya dalam siaran Radio Kesehatan Kemenkes RI, Senin (11/7/2022).

Menurut Syahril, cakupan vaksinasi booster Indonesia masih di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Karena itu, pemerintah juga melakukan percepatan memperluas cakupan vaksinasi booster.

"Booster kita masih di angka 25 persen, berarti kurang 25 persen lagi untuk sesuai standar WHO yaitu 50 persen, jadi ini butuh percepatan," bebernya.

"Kita akan membuat suatu persyaratan dalam perjalanan, kemudian dalam persyaratan pertemuan-pertemuan skala besar, perlu melindungi masyarakat di area publik dengan booster," lanjut Syahril.

Ia juga menambahkan, cakupan vaksinasi booster yang masih rendah ini bisa jadi disebabkan komunikasi publik yang belum maksimal. Maka dari itu ia mengingatkan kepada para stakeholder yang terlibat untuk meningkatkan komunikasi publik lebih baik.

"Meningkatkan komunikasi publik kita semua yang punya stakeholder pada masyarakat, jangan jangan ada handicap-nya, atau hambatan hambatan yang tidak begitu sampai pada masyarakat. Apalagi media sosial ada hoaks berseliweran," pungkasnya.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT