ADVERTISEMENT

Senin, 18 Jul 2022 21:01 WIB

Kemenkes Akui Tracing COVID-19 Menurun, Sarankan Lapor Jika Bergejala

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Penurunan kasus COVID-19 menyebabkan kebutuhan masyarakat dalam melakukan tes antigen menurun. Lantas bagaimana nasib bisnis tes antigen saat RI menuju endemi? Ilustrasi tes COVID-19. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Puncak gelombang subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang diprediksi akan sampai 20 ribu kasus per hari pada pertengahan hingga akhir Juli sepertinya akan sulit tercapai. Jumlah testing COVID-19 di Indonesia dinilai masih rendah, di bawah angka 100 ribu per hari.

Menanggapi hal ini, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu mengakui memang di beberapa daerah usaha tracing tidak maksimal. Namun ia menyatakan usaha tracing COVID-19 masih terus dilakukan.

"Iya (masih dilakukan), tapi harus diakui beberapa daerah tidak maksimal dalam melakukan pelacakan," ujarnya pada detikcom, Senin (18/7/2022).

Maxi menyatakan, pemerintah melalui arahan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan, sedang mengusahakan agar tracing COVID-19 dapat kembali berjalan dengan maksimal.

"Iya Pak Menko Marves dalam rapat kemarin menginstruksikan ke pimpinan daerah, TNI, dan Polri untuk melakukan strategi penanganan seperti waktu lalu," sambungnya.

Dengan turunnya tracing COVID-19, apakah yang bergejala harus inisiatif melakukan tes COVID-19 secara mandiri?

Menurut Maxi, bagi yang merasa bergejala bisa segera melapor ke puskesmas terdekat untuk melakukan tes. Ia menyatakan biaya tes COVID-19 akan ditanggung oleh pemerintah.

"Iya sebaiknya inisiatif melapor ke puskesmas dan pasti tes antigen maupun PCR gratis ditanggung pemerintah. Gampang datang saja ke puskesmas," bebernya.

Sebelumnya, ahli epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia, memprediksi pemerintah hanya akan mampu menemukan tidak lebih dari 5 ribu kasus per hari, jika testing dan tracing tidak dilakukan secara masif.

"Paling antara 1.000, atau paling 5.000 kasus baru, itu prediksi yang moderat. Karena juga meskipun kasus infeksi ditemukan aktif sekali, misalnya 10 atau 20 ribu bahkan 50 ribu sekalipun ya itu mayoritas ya nggak bergejala," bebernya beberapa waktu lalu.

"Tahun ketiga ini kita akan sangat melihat tren gelombang itu berbeda. Dalam artian begini, berbedanya bukan berarti bahwa virus ini melemah tidak, tapi intinya situasinya banyak negara dunia termasuk Indonesia menurun keinginan dan juga upaya deteksi dini testing, tracing," pungkasnya.



Simak Video "Jangan Euforia Dulu! Epidemiolog Minta Waspada soal BA.2"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT