ADVERTISEMENT

Rabu, 20 Jul 2022 15:17 WIB

Tolak Legalisasi, MK Tegaskan Belum Ada Bukti Kajian Ganja untuk Terapi

Vidya Pinandhita - detikHealth
Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materi UU Narkotika untuk terapi medis atau kesehatan. MK menilai materi yang diuji adalah kewenangan DPR dan pemerintah. MK menolak legalisasi ganja medis, sebut belum ada kajian komprehensif terkait penggunaan ganja untuk layanan kesehatan dan terapi. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Mahkamah Konstitusi menyebut tak bisa membenarkan legalisasi ganja medis, mengingat hingga kini belum ada bukti kajian dan penelitian komprehensif terkait ganja medis. Putusan tersebut menyusul aspirasi Ibu Santi Warastuti yang belum lama ini ramai beredar di media sosial. Di momen Car Free Day (CFD) Jakarta, Ibu Santi menyuarakan kebutuhan anaknya, Pika, akan ganja medis lantaran tengah mengidap cerebral palsy atau kelumpuhan otak.

Hakim MK Suhartoyo memaparkan, ganja medis tergolong Narkotika Golongan I, yang diyakini memiliki dampak paling serius dibandingkan golongan narkotika lainnya. Dengan begitu, jenis ini hanya digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak bisa digunakan untuk layanan kesehatan atau terapi.

"Jenis Narkotika Golongan I telah ditegaskan dalam Penjelasan Pasal 6 Ayat (1) huruf a UU 35/2009 hanya dapat dipergunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi tinggi menyebabkan ketergantungan," paparnya dalam Sidang Pengucapan Putusan/Ketetapan, Rabu (20/7/2022).

"Oleh karena itu, dari pembatasan imperatif dimaksud secara sederhana dapat dipahami bahwa Narkotika Golongan I adalah jenis narkotika yang mempunyai dampak paling serius dibandingkan dengan jenis narkotika golongan lainnya," sambungnya.

Dengan begitu ia menyebut, perubahaan pemanfaatan Narkotika Golongan I, dalam hal ini dari pengembangan ilmu pengetahuan ke layanan medis, membutuhkan pengkajian dan penelitian ilmiah secara lebih dulu. Sementara, hingga kini belum terdapat bukti bahwa telah dilakukan penelitian komprehensif terkait penggunaan ganja medis.

"Setiap jenis golongan narkotika memiliki dampak yang berbeda-beda, khususnya dalam hal tingkat ketergantungannya. Maka di dalam menentukan jenis-jenis narkotika yang ditetapkan ke dalam suatu jenis golongan narkotika tertentu, dibutuhkan metode ilmiah yang sangat ketat," ungkapnya.

"Terkait dengan adanya keinginan untuk menggeser atau mengubah pemanfaatan jenis narkotika golongan yang satu ke dalam golongan yang lain, maka hal tersebut juga tidak dapat secara sederhana dilakukan. Oleh karena itu untuk melakukan perubahan sebagaimana tersebut di atas dibutuhkan kebijakan yang sangat komprehensif dan mendalami melalui tahapan penting yang harus dimulai dengan penelitian dan pengkajian ilmiah," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT