ADVERTISEMENT

Selasa, 02 Agu 2022 05:45 WIB

Cegah Stunting dan Penyakit Tidak Menyular Lewat Asupan Gizi Sehat dan Seimbang

Melani Rahmi Mantu, Herwanto, Eko Kristanto Kunta Ajie, Naomi Esthernita FD, Wiyarni Pambudi, Fransiska Farah - detikHealth
Image of Asian mother help her daughter wearing medical mask to prepare go to school. Avoiding Covid-19 or coronavirus outbreak. Foto: iStock
Jakarta -

Pengentasan kelaparan atau zero hunger merupakan kunci indikator pada tujuan kedua Sustanaible Global Development dan tujuan pengentasan pertama dari 6 tujuan utama Global Nutrition Target 2025. Data RISKESDAS 2018 menunjukkan masih terdapatnya kasus gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia dengan proporsi balita dengan gizi buruk di tahun 2018 mengalami penurunan menjadi 3,9 persen dari 5,75 persen di tahun 2013 dan 5,4 persen di tahun 2007, sedangkan proporsi balita dengan gizi kurang di tahun 2018 sebesar 13,8 persen, meningkat di tahun 2013 sebesar dari 13,9 persen dan menurun dibandingkan data tahun 2007 sebesar 13 persen.

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat nutrisi yang buruk, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak adekuat. Stunting ditandai dengan pertumbuhan anak yang tidak optimal akibat pemberian makan dan gizi yang tidak seimbang, praktek pemberian makan yang tidak tepat, keadaan bayi sakit atau infeksi dalam 1.000 hari pertama kehidupan sejak bayi masih dalam kandungan, juga karena kesehatan dan nutrisi ibu yang kurang. Stunting akan menyebabkan keadaan gizi kurang atau buruk yang menyebabkan anak tidak tumbuh secara optimal.

Bagian Ilmu Kesehatan Anak dan Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara di bulan Juni-Juli 2022 melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di lingkungan RPTRA Mandala, Kelurahan Tomang, Jakarta Barat melalui kegiatan penyuluhan stunting dan pemeriksaan status gizi balita yang melibatkan orangtua/pengasuh dari 123 balita di RW 1-16 Kelurahan Tomang, Jakarta Barat. Masyarakat diberikan penyuluhan mengenai pengenalan stunting, bahaya stunting serta pencegahan stunting lewat pemberian nutrisi yang optimal dimulai dari ASI eksklusif, MPASI mulai 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI hingga 2 tahun, serta pentingnya imunisasi untuk mencegah bayi sakit. Orangtua juga dikenalkan tentang pentingnya melihat kenaikan berat badan anak yang optimal dan pembacaan status gizi lewat kurva pertumbuhan di Kartu Menuju Sehat atau buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Dari keseluruhan balita yang diperiksa di RPTRA Mandala Tomang, 56 persen memiliki berat badan normal menurut usia, 67 persen memiliki tinggi badan normal menurut usia, dan 54 persen memiliki status gizi baik. Sebanyak 64 persen balita mendapatkan ASI eksklusif, 86 persen mendapatkan MPASI di usia 6 bulan dengan 78 persen anak mendapatkan MPASI yang teratur 3-4 kali per hari dan 59 persen mengonsumsi makanan selingan tidak teratur (lebih dari 2 kali per hari). Sembilan puluh tiga persen balita (18/123 balita) memiliki status imunisasi dasar yang lengkap.

Pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang tepat waktu mempunyai hubungan yang bermakna dalam pencapaian berat badan normal dan status gizi yang baik. Pemberian MPASI 3-4 kali per hari juga bermakna dalam pencapaian berat badan yang baik, serta makanan selingan pada MPASI yang tidak teratur memiliki hubungan dengan pencapaian berat badan dan status gizi anak. Hal ini menunjukkan pemberian makanan bayi yang lengkap dan seimbang menentukan status gizi yang baik. Peran kesadaran masyarakat akan pemberian nutrisi yang pada anak, mulai dari pemberian ASI eksklusif, MPASI tepat waktu dengan gizi lengkap dan seimbang serta pemberian imunisasi, penting untuk mencegah stunting sehingga anak tumbuh sehat dan cerdas.

)* Ditulis oleh tim pengabdian masyarakat dari Departemen Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, Jakarta.





Simak Video "Permasalahan Gizi di Indonesia, Stunting dan Obesitas Jadi Sorotan"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT