ADVERTISEMENT

Selasa, 02 Agu 2022 18:35 WIB

Risiko Cacar Monyet Hanya 'Mengintai' Gay-Biseks? Nggak Juga, Ini Faktanya

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Monkeypox  positive blood tube and world pandemic map Foto: Getty Images/iStockphoto/turk_stock_photographer
Jakarta -

Cacar monyet diduga memiliki risiko penularan yang lebih besar pada kelompok tertentu seperti pada kelompok gay, biseksual, atau LGBT. Namun, apakah kelompok orang dengan komorbid juga mempunyai risiko yang besar?

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr Prasetyadi Mawardi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), kelompok orang dengan komorbid akan lebih berisiko pada berbagai virus termasuk cacar monyet.

"Infeksi virus mudah terjadi dengan komorbiditas atau dengan status kekebalan relatif rendah dari orang normal. Apapun virusnya, bisa lebih lama sembuh atau lebih berat dibandingkan individu normal," katanya dalam konferensi pers PB IDI, Selasa (2/8/2022).

Ia juga menambahkan, cacar monyet cenderung memiliki gejala khas yang terbagi menjadi dua fase yaitu fase invasi dan fase erupsi.

"Kita bisa membedakan pada wujud kelainan kulit yang ada, monkeypox ada dua fase invasi dan erupsi. Pasien akan mengalami demam dan nyeri otot, lemah kepanjangan, biasanya seminggu. Lalu lesi kulit atau ruam pada daerah wajah atau anggota gerak bagian atas muncul," sambungnya.

Ruam dan lesi pada cacar monyet menurutnya juga lebih banyak muncul pada wajah dan anggota gerak bagian atas.

"Monkeypox di badan sedikit dibanding wajah atau anggota gerak atas atau tangan," terang dr Prasetyadi.

Untuk penularan, selain dengan sentuhan kulit, sentuhan atau kontak pada benda terkontaminasi virus juga bisa menularkan cacar monyet.

dr Nelly Puspandari, SpMK dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) menjelaskan, virus sebenarnya mati dengan cepat jika beredar di area terbuka yang terpapar sinar matahari. Namun jika virus tersebut menyebar di area dengan minim paparan sinar matahari, virus tersebut bisa hidup dalam waktu lebih lama dan berisiko menjangkit orang lain.

"Namun yang perlu menjadi concern adalah apabila lesi kulit menempel pada tempat-tempat yang tidak terpapar sinar matahari. Misalkan pada baju dari pasien atau suspek atau tersangka, itu akan bertahan lebih lama," ucap dr Nelly pada kesempatan yang sama.

Menyikapi risiko tersebut, dr Nelly menyarankan penggunaan desinfektan untuk memusnahkan virus cacar monyet pada pakaian pasien atau suspek cacar monyet.



Simak Video "Kenali Gejala Awal Cacar Monyet"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT