ADVERTISEMENT

Minggu, 07 Agu 2022 12:32 WIB

Kondisi Terkini Joe Biden Usai Kena COVID-19 Rebound

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
President Joe Biden waves as he leaves after speaking in the Rose Garden of the White House in Washington, Wednesday, July 27, 2022. Biden ended his COVID-19 isolation after testing negative for the virus on Tuesday night and again on Wednesday. (AP Photo/Susan Walsh) Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Foto: AP/Susan Walsh
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah dinyatakan negatif COVID-19 pada Sabtu (6/8/2022). Namun, dokter yang menanganinya menyatakan Biden masih harus menjalani isolasi di Gedung Putih sampai tes COVID-19 kedua juga mendapat hasil negatif.

Dilansir dari AP News, Minggu (7/8/2022), dokter Gedung Putih dr Kevin O'Connor menyatakan dalam memo terbarunya bahwa presiden Biden dengan sangat hati-hati akan mematuhi langkah-langkah isolasi yang ketat sejak mengalami rebound COVID-19 pada 30 Juli.

Biden, pertama kali dites positif COVID-19 pada 21 Juli. Ia sempat dinyatakan negatif COVID-19 dan mengakhiri masa isolasinya, sayangnya tiga hari kemudian ia kembali dinyatakan positif.

Biden sempat mengonsumsi obat antivirus Paxlovid, namun dilaporkan pada beberapa kasus, di antara sebagian kecil dari mereka mendapat infeksi COVID-19 rebound yang terjadi setelah beberapa hari dinyatakan negatif.

Ketika pertama kali dinyatakan positif COVID-19 gejala utama Biden adalah pilek, kelelahan, dan batuk. Dr O'Connor menyatakan selama kasus rebound-nya, Biden hanya mengalami batuk dan hampir sepenuhnya sembuh.

Apa itu COVID-19 rebound?

Mei lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merilis panduan COVID-19 rebound. COVID-19 rebound diartikan sebagai gejala yang berulang atau kembali dinyatakan positif COVID-19 setelah sebelumnya tidak ada virus yang terdeteksi alias negatif.

Rebound COVID-19 umumnya dilaporkan pada hari kedua hingga ke-delapan setelah pasien dinyatakan pulih. Gejala di masa rebound COVID-19 relatif ringan pada mereka yang sudah menyelesaikan pengobatan paxlovid.

"Berdasarkan informasi dari laporan kasus, rebound COVID-19 tidak mewakili infeksi ulang dengan SARS-CoV-2 atau perkembangan resistensi terhadap paxlovid," tambah panduan itu.

CDC juga melaporkan bahwa selama uji klinis Paxlovid, sebagian kecil kasus rebound ditemukan pada mereka yang diberikan obat dan orang yang menggunakan plasebo, yang berarti rebound tampaknya tidak semata-mata disebabkan oleh antivirus.



Simak Video "Penasihat Kesehatan Joe Biden Anthony Fauci Terpapar Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT