ADVERTISEMENT

Kamis, 11 Agu 2022 07:00 WIB

Sarapan Mi Instan Memang Nikmat Sih, Tapi Harus Waspada Sama Ini

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Mi Instan Yakin mau makan mi instan pagi ini? Simak catatan pakar. (Foto: iStock)
Jakarta -

Bagi sebagian besar orang, sarapan mungkin menjadi kegiatan yang tidak bisa dilewati. Ada banyak menu yang biasa dikonsumsi saat sarapan, mulai dari roti, nasi, atau hanya sekedar minum susu.

Namun, tak jarang juga yang memilih mi instan sebagai menu untuk sarapan. Selain rasanya yang enak, mi instan sering dipilih karena penyajiannya yang praktis dan mudah.

Tapi, sebenarnya boleh nggak sih sarapan mi instan?

Menurut Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA) Dr Rita Ramayulis, DCN, MKes, mi instan sebaiknya tidak dikonsumsi untuk sarapan. Sebab, kandungan bumbunya yang tinggi natrium dan adanya lemak jenuh pada mi instan tidak disarankan untuk dikonsumsi terlalu banyak.

"Karena kandungan bumbunya terdiri dari natrium yang tinggi, ditambah ada kandungan lemak jenuhnya (pada mi instan)," ungkap Rita pada detikcom, Rabu (10/8/2022).

Rita menjelaskan dalam satu bungkus mi instan terdapat kandungan natrium sebesar 800 hingga 2.000 mg. Sementara kebutuhan natrium pada orang dewasa maksimal sekitar 2.000 mg, dan pada anak-anak kurang lebih hanya 1.500 mg.

"Jadi, kalau makan mi instan itu satu kali sehari saja bisa berlebih lho (kebutuhan natrium pada tubuh)," beber dia.

"Karena takaran natrium kita sehari cuma 2.000 mg atau setara dengan satu sendok garam untuk 24 jam. Misalnya satu porsi mi instan 800 mg, paling rendah, berarti jatahnya (natrium) 200 mg lagi," lanjut Dr Rita.

Menurutnya, jumlah natrium dalam tubuh akan sangat berlebih jika mengkonsumsi mi instan untuk menu sarapannya. Ini akan berlebih jika dihitung secara keseluruhan dengan makanan yang dikonsumsi saat siang dan malam hari.

"Belum lagi kalau dia makan mi instannya pakai saus yang juga mengandung natrium dan kerupuk, naik lagi kadar natriumnya. Jadi, kalau menurut saya nggak bisa sih (untuk sarapan)," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, asupan natrium atau sodium yang berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi. Berbagai masalah jantung dan pembuluh darah, seperti stroke dan serangan jantung, dapat dipicu oleh kondisi hipertensi.

"Berpotensi (memicu hipertensi). Karena hubungan antara asupan natrium dengan darah tekanan darah tinggi itu cukup jelas," kata dr Badai Bhatara Tiksnadi, MM, SpJP(K), Ketua POKJA Hipertensi PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dalam webinar beberapa waktu lalu.

NEXT: Bisakah Makan Mi Instan Setiap Hari?

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Jaga Daya Tahan Tubuh Keluarga dengan Sarapan Berenergi Lengkap"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT