ADVERTISEMENT

Kamis, 11 Agu 2022 10:31 WIB

Lagi-lagi Virus Baru di China, 35 Pasien Langya Tertular dari Mana Sih?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Total 35 orang di China terinfeksi virus baru yang kemungkinan besar ditularkan dari hewan ke manusia. Para peneliti di China, Singapura, hingga Selandia Baru belakangan mengingatkan gejala Langya henipavirus (LayV) banyak diawali dengan demam.

Dalam riset New England Journal of Medicine yang dirilis 4 Agustus, virus baru Langya pertama kali diidentifikasi pada sampel swab tenggorokan salah satu pasien. Dalam penyelidikan selanjutnya, 35 pasien dengan infeksi LayV akut ditemukan di provinsi Shandong dan Henan, China.

Gejala

Ada 26 pasien di antaranya, ditemukan tidak mengalami koinfeksi atau hanya terinfeksi virus Langya. Berikut gejala yang dikeluhkan:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Batuk
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Nyeri otot.
  • Tertular dari Mana?

Rupanya kebanyakan pasien merupakan petani. Para ahli mempelajari kemungkinan hewan apa saja yang bisa menjadi reservoir. Temuannya, diyakini virus baru Langya terdeteksi pada tikus, yang memperkuat kemungkinan reservoir alami virus berawal dari hewan tersebut.

Kabar baiknya, sejauh ini belum ada bukti penularan dari manusia ke manusia.

"Tidak ada kontak dekat atau riwayat paparan umum di antara pasien, yang menunjukkan bahwa infeksi pada populasi manusia mungkin sporadis," kata para peneliti, menambahkan bahwa ukuran sampel terlalu kecil untuk menentukan potensi penularan antarmanusia.

Satu Keluarga dengan Nipah

Dikutip dari The Guardian, virus Langya masuk dalam genus henipavirus, virus lain di bawah keluarga yang sama termasuk virus Hendra dan virus Nipah. Virus Nipah diketahui menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit fatal.

Virus Nipah dibawa terutama oleh beberapa jenis kelelawar buah dan babi. Ini juga dapat ditularkan langsung antarmanusia serta melalui buah yang terkontaminasi.

Menurut media pemerintah China Global Times, kasus Langya henipavirus sejauh ini belum memiliki kasus fatal atau gejala serius.

Profesor Wang Linfa dari Emerging Infectious Diseases Program di Duke-NUS Medical School di Singapura, mengatakan tidak perlu panik, tetapi tetap waspada lantaran karakteristik virus seiring dengan perkembangan waktu tidak terduga.

(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT