ADVERTISEMENT

Kamis, 11 Agu 2022 14:25 WIB

Sudah 98 Persen Warga RI 'Kebal' COVID, Masih Butuh Booster Kedua?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Tenaga kesehatan menerima Vaksinasi COVID-19 booster kedua di Gelanggang Remaja Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (1/8/2022). Vaksinasi booster kedua yang diadakan 1-5 Agustus tersebut diberikan untuk tenaga kesehatan dengan ketersediaan 150 dosis per hari. Ilustrasi vaksinasi COVID-19. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Masyarakat Indonesia dilaporkan mengalami peningkatan antibodi terhadap virus Corona. Pada Desember 2021, tercatat tingkat antibodi sebesar 87,8 persen. Kemudian pada Juli 2022, mencapai 98,5 persen. Lantas, sepenting apa suntikan vaksin COVID-19 dosis-4 alias booster kedua buat warga RI?

Peningkatan antibodi tersebut dipaparkan oleh Kementerian Kesehatan RI dan para peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM UI). Ahli epidemiologi FKM UI Pandu Riono menjelaskan, peningkatan antibodi tersebut disebabkan oleh pemberian vaksin COVID-19 booster pertama (dosis vaksin ketiga). Namun memang hingga kini, cakupan vaksin booster pertama di Indonesia baru mencapai 28 persen.

Jika nantinya antibodi warga RI terbukti sudah mencukupi dengan cakupan vaksinasi booster pertama yang lebih besar, tak tertutup kemungkinan booster kedua tidak lagi diperlukan.

"Hasil survei itu mengindikasikan atau mendukung bahwa booster itu sangat penting. Tetapi kita cakupan booster yang pertama ini baru sekitar 20 persen dan masih jauh daripada target yang kita inginkan. Jangan kita pikirkan dulu booster yang kedua, kita tuntaskan dulu booster pertama," ujarnya dalam konferensi pers virtual Serologi Survey Nasional Ketiga, Kamis (11/8/2022).

"Kalau kita sudah bisa menuntaskan (booster pertama) barangkali kita tidak butuh booster kedua. Kita belum tahu, tapi yang sudah jelas bahwa booster pertama itu adalah suatu keharusan kita lakukan. Kita tuntaskan, dalam arti karena dari data mengindikasikan kita berhasil mencapai level kadar antibodi yang cukup tinggi," sambung Pandu.

Lebih lanjut menurutnya, pemberian booster pertama hingga sejauh ini terbukti sukses menekan keparahan gejala pada pasien COVID-19. Walhasil meski RI diterpa gelombang subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, tingkat perawatan di rumah sakit dan kematian akibat COVID-19 tidak setinggi pada gelombang Corona sebelumnya,

"Terbukti kadar tinggi itu mampu menekan dari perjalanan pandemi waktu kita bukan puncak Omicron ini ada BA.4 dan BA.5, angka yang masuk rumah sakit sangat rendah, angka kematian rendah," pungkasnya.

Sebagai catatan, vaksinasi COVID-19 dosis keempat (booster kedua) sudah mulai diberikan sejak Jumat (29/7). Pada tahap ini, booster kedua baru diberikan kepada tenaga kesehatan sebagai kelompok prioritas.



Simak Video "Vaksin Booster Bakal Jadi Syarat Masuk Mal, Begini Respons Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT