ADVERTISEMENT

Kamis, 11 Agu 2022 20:30 WIB

dr Boyke Sebut Banyak Pria Keluhkan Lemah Syahwat Pasca Infeksi COVID

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
yellow banana and the hand in the white background Ilustrasi penjelasan pakar seks dr Boyke perihal banyak pria mengeluhkan lemah syahwat imbas infeksi COVID-19. Foto: iStock
Jakarta -

Orang yang terinfeksi COVID-19 dapat mengalami beberapa gejala lanjutan walaupun sudah dinyatakan sembuh atau dikenal dengan kondisi long COVID. Salah satu gejala long COVID yang belakangan diketahui merupakan gangguan disfungsi ereksi pada pria yang pernah terinfeksi COVID-19.

Menurut pemerhati seks dan keharmonisan rumah tangga, dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, banyak pasiennya yang mengeluhkan mengalami disfungsi ereksi pasca tertular COVID-19 selama masa pandemi ini.

"Banyak pasien datang pasca serangan COVID yah mengalami gangguan ereksi. Terutama kemarin tuh ya pas (subvarian) Delta," jelasnya pada sesi temu media di Jakarta Selatan, Kamis (11/8/2022).

Ia menjelaskan, menurut studi, disfungsi ereksi merupakan salah satu efek long COVID yang bisa terjadi pada pria.

"Efek long COVID bisa kepada lebih pada gangguan ereksi," sambungnya.

Menurutnya ada dua hal penting yang menyebabkan pada masa pandemi COVID-19 banyak pria mengalami disfungsi ereksi, seperti di bawah ini:

Tidak Berolahraga

Menurut dr Boyke jarang olahraga pada masa pandemi COVID-19 membuat banyak pria mengalami disfungsi ereksi. Olahraga dapat membantu aliran darah lancar dan badan bugar, saat tubuh tidak berolahraga maka aliran darah dapat terganggu, termasuk pada area alat vital.

"Jarang olahraga itu berpengaruh pada disfungsi ereksi, sering tiduran atau duduk doang itu kan aliran darah nggak lancar. Tapi olahraga yang sesuai ya, bukan gym, tapi lebih ke kardio," ucapnya.

Gangguan Psikologis

Pada masa pandemi COVID-19 juga banyak membuat seseorang mengalami tekanan psikologis. dr Boyke menyatakan, 54 persen pasien disfungsi ereksi diakibatkan karena stres dan gangguan psikologis.

"Biasanya orang ke mall, terus pandemi jadi jarang bikin stres, atau tekanan lain, ini berpengaruh," ungkapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT