ADVERTISEMENT

Minggu, 14 Agu 2022 19:45 WIB

Pro-Kontra BPA di Air Minum Dalam Kemasan, Pendapat Pakar Terbelah

Vidya Pinandhita - detikHealth
Ilustrasi kandungan BPA dalam botol minum plastik. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Sejumlah pakar menyoroti bahaya kandungan Bisfenol A (BPA) pada air minum dalam kemasan (AMDK). Pasalnya, migrasi BPA dari kemasan primer ke makanan atau minuman dalam kemasan diyakini bisa memicu sederet penyakit, termasuk kanker dan masalah kepada janin dan ibu hamil.

Belakangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) mewajibkan air kemasan dalam minuman berbahan policarbonat menyantumkan keterangan BPA dalam kemasan, sebagai tanda kehati-hatian konsumen. Namun, keamanan terkait kandungan BPA dalam produk kemasan plastik bahan tertentu ditanggapi berbeda oleh para pakar.

Sebagian menilai kandungan tersebut memang berbahaya dan bisa bermigrasi dari plastik sehingga tak sengaja tertelan, sementara beberapa pakar yang lain menyebut batasan BPA yang tersebar di produk air minum kemasan Indonesia tergolong aman dan masih dalam batas standar BPOM RI bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pro-Kontra

Ketua Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Jawa Barat, dr Muhammad Alamsyah Aziz, SpOG(K), KIC, MKes, menjelaskan, hingga kini belum ada laporan kasus gangguan kesehatan pada ibu hamil maupun janin imbas konsumsi AMDK guna ulang atau galon berbahan Polikarbonat.

Mengingat, sempat muncul isu AMDK galon yang menggunakan plastik jenis polikarbonat bisa menimbulkan masalah kesehatan. Tak lain, jika BPA dalam kemasan bermigrasi ke minuman imbas terpapar panas matahari.

Sementara ahli biomedik farmasi dan farmakologi sekaligus Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Junaidi Khotib menyebut, konsentrasi BPA dalam darah dan urine berkaitan erat dengan gangguan pada sistem hormon, saraf, hingga mental anak.

"Dari kajian yang dilakukan terjadi pelepasan atau migrasi partikel BPA ke makanan atau minuman yang bersinggungan langsung dengan kemasan primer sehingga partikel BPA dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman tersebut," paparnya dalam keterangan tertulis, Jumat (12/8/2022).

"Konsentrasi BPA dalam darah dan urine sangat erat dengan berbagai penyakit yang berkaitan dengan gangguan endokrin, yaitu gangguan pada hormonal sistem, perkembangan saraf dan mental pada anak-anak," sambung Prof Junaidi.

Sementara Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof DR dr Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP menjelaskan hingga kini, BPA dalam kemasan plastik juga tidak terbukti memicu kanker. Menurutnya, jangan sampai kabar BPA memicu sederet penyakit tersebut malah membuat warga takut mengonsumsi AMDK galon. Sebab, mengonsumsi banyak air putih justru merupakan salah satu cara mencegah kanker.

"Saya harap tidak perlu khawatir, karena BPA yang ada di air kemasan itu buktinya masih sangat lemah untuk bisa menyebabkan kanker. Jadi, masyarakat belum perlu khawatir atau tidak perlu khawatir saat ini," bebernya.

Apa Jadinya jika BPA Terlanjur Masuk ke Tubuh?

Dosen biokimia dari Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor (IPB), Syaefudin, PhD, menjelaskan BPA yang tidak dikonsumsi dari kemasan pangan akan dikeluarkan lagi dari dalam tubuh. Pasalnya, BPA yang secara tidak sengaja masuk ke dalam tubuh akan diubah di dalam hati menjadi senyawa lain sehingga dapat lebih mudah dikeluarkan lewat urine.

"Kalau BPA itu tidak sengaja dikonsumsi oleh kita tubuh kita, misalkan dari air minum dalam kemasan yang mengandung BPA. Tapi, ketika dikonsumsi, yang paling berperan itu adalah hati. Ada proses glukoronidase di hati, di mana ada enzim yang mengubah BPA itu menjadi senyawa lain yang mudah dikeluarkan tubuh lewat urine," pungkas dia.

Kata Pakar

Dosen dan Peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor (IPB) Nugraha Edi Suyatma menyebut alih-alih menyoroti kandungan BPA, temuan pangan yang tidak memiliki izin edar lebih memerlukan pengawasan ketat. "Tapi kalau untuk konsumsi besar mereka kan sudah taat aturan. Mereka pasti akan meminta izin khusus dulu kalau mau menggunakan bahan-bahan tambahan melebihi dari batas yang sudah ditentukan," kata dia.

Pengawasan ketat pangan dikaitkan dengan beberapa waktu lalu muncul laporan kasus tubuh anak usia 5 tahun di Ponorogo terbakar karena mengonsumsi jajanan ice smoke yang diolah dengan nitrogen cair. Menurut Kepala Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Fredy Kurniawan, zat seperti nitrogen cair dalam suhu yang sangat dingin tidak boleh bersentuhan dengan organ manusia secara langsung. "Bekas terbakar pada temperatur yang dingin, kulit seperti melepuh," katanya.

Kembali ke persoalan BPA, menurutnya, setiap perusahaan besar sudah mengawasi mutu galon yang dipakai terkait keamanan untuk digunakan sebelum diedarkan.



Simak Video "Aktivis Lingkungan Kritisi Penggunaan Galon Sekali Pakai"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT