Dokter Forensik Beberkan Cara Menjerat Pelaku Pelecehan Seksual

ADVERTISEMENT

Dokter Forensik Beberkan Cara Menjerat Pelaku Pelecehan Seksual

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Jumat, 26 Agu 2022 07:31 WIB
Despair. The concept of stopping violence against women and human trafficking,  International Womens Day
Foto: Getty Images/iStockphoto/Tinnakorn Jorruang
Jakarta -

Indonesia darurat kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Bagaimana tidak, menurut catatan Komnas Perempuan, dalam tiga jam ada satu perempuan yang diperkosa.

Dampak yang dirasakan korban akan sangat kompleks, mulai dari aspek psikologis seperti trauma dan depresi sampai berpengaruh ke kesehatan mereka karena bisa mengalami HIV, infeksi menular seksual, bahkan kehamilan yang tidak direncanakan.

Pemulihan bagi korban kekerasan dan pelecehan seksual harus mencakup tiga aspek, mulai dari layanan psikososial, medis, sampai hukum. Hanya saja para korban banyak yang tidak tahu bagaimana cara mengumpulkan alat bukti agar bisa menjerat pelaku.

Dokter forensik dr Sumy Hastry Purwanti, DFM, SpF dari Polda Jawa Tengah mengatakan pemeriksaan visum dan forensik penting untuk melengkapi alat bukti dalam kasus pelecehan seksual. Tapi bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti tersebut?

Jika kasus pelecehan seksual melibatkan fisik seperti menyentuh atau membelai korban, baju yang dipakai pada saat itu bisa dibawa ke pihak kepolisian untuk menjadi bukti.

"Itu bisa menjadi alat bukti untuk pelecehan seksual, ada epitel kulit di sidik jari yang menempel pada korban" kata dr Sumy dalam sesi diskusi di agenda The 2nd International Conference on Indonesia Family Planning and Reproductive Health di Yogyakarta, Rabu (24/8/2022).

Selain itu bila terjadi penetrasi, cairan lubrikasi yang keluar dan menempel misalnya di pakaian atau tempat tidur, bisa dijadikan alat bukti yang kuat untuk mendapatkan keadilan bagi kasusnya. Ia mengharapkan agar korban tidak langsung mencuci atau membuang pakaian atau benda saat kejadian agar bisa dijadikan alat bukti.

"Harus hati-hati juga membawanya, tempatnya dibedakan agar tidak terjadi kontaminasi," bebernya.

Jika korban mengalami pelecehan seksual dan terjadi penetrasi, penting baginya diberikan kontrasepsi darurat dalam 72 jam setelah kejadian. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan tidak direncanakan.

Hanya saja, akses kontrasepsi darurat bagi korban kekerasan seksual masih sangat terbatas.



Simak Video "Formula Cegah Kekerasan Seksual Anak di Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT