Psikolog Singgung Dampak 'Quiet Quitting', Tren Kerja Seperlunya yang Lagi Viral

ADVERTISEMENT

Psikolog Singgung Dampak 'Quiet Quitting', Tren Kerja Seperlunya yang Lagi Viral

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Kamis, 01 Sep 2022 15:00 WIB
Concept Burnout Syndrome. Business Woman feels uncomfortable working. Which is caused by stress, accumulated from unsuccessful work And less resting body. Consult a specialist psychiatrist
Ilustrasi burnout. Foto: Getty Images/iStockphoto/Jirapong Manustrong
Jakarta -

Belakangan muncul istilah 'quiet quitting' yang ramai dibicarakan netizen. Istilah ini mengacu pada perilaku dalam bekerja yang serba minimalis, mengerjakan apa yang hanya ditugaskan, dan tidak menerima lembur.

Menurut psikolog klinis dan Co-Founder Ohana Space Veronica Adesla belum ada definisi baku dari istilah quiet quitting. Namun menurutnya salah satunya adalah perilaku membatasi diri dalam bekerja secara sehat untuk membantu mengurangi burnout.

"Memang belum ada definisi yang jelas ada yang mengartikan sebagai tidak bekerja lebih atau kurang dari jobdesk kerjanya, ada juga yang mengartikan bekerja sesuai dengan jam kerja dan tidak bekerja di luar jam kerja, dan ada juga yang mengartikan membuat batasan tidak menerima pekerjaan tambahan," ucap Vero saat dihubungi detikcom, Kamis (1/9/2022).

"Melakukan aktivitas yang juga penting esensial lainnya seperti misalnya, berolahraga, merawat diri, melakukan hobi, waktu bersama keluarga dan bersosialisasi dengan teman, dan sebagainya, maka menerapkan batasan diri dalam bekerja secara sehat akan dapat membantu mengurangi burnout," ujar Vero.

Namun, quiet quitting bisa jadi berdampak negatif kepada seseorang jika dilakukan berlebihan. Menurut Vero jika tidak diterapkan secara bijak, quiet quitting justru bisa mengganggu karier seseorang.

"Apabila quite quitting diartikan sebagai membatasi diri hanya untuk melakukan pekerjaan yang menjadi jobdesknya tanpa mau mengembangkan diri lebih, belajar hal baru, dan terlibat lebih ataupun memberikan kontribusi lebih untuk perusahaan melalui ide-ide pemikiran maupun peningkatan kompetensi yang dimiliki maka hal ini dapat berdampak pada kariernya dalam jangka panjang," beber Vero.

Bukan hanya karier, lebih jauh menurut Vero, seseorang yang sudah burnout atau tidak memiliki minat lebih dari pekerjaanya bisa mengalami dampak psikologis.

"Pekerjaan merupakan bagian dari aktualisasi diri maka tentu hal ini dalam jangka panjang juga akan berdampak juga secara psikologis menyangkut kesejahteraan psikologis dan kualitas hidupnya, antara lain kepercayaan diri, kepuasan diri, kebermaknaan diri, pemaknaan hidup dan kondisi emosional," pungkasnya.



Simak Video "Quiet Quitting Tren Kerja Seperlunya, Apa Sih Itu?"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT