ADVERTISEMENT

Jumat, 02 Sep 2022 13:32 WIB

Mental Health

Kisah Mereka yang Pilih 'Quiet Quitting', Kerja Seperlunya demi Tetap Waras

Alethea Pricila - detikHealth
Rear View Of Woman Working From Home On Computer In Home Office Stretching At Desk Tren quiet quitting alias kerja seperlunya (Foto: Getty Images/iStockphoto/Daisy-Daisy)
Jakarta -

Saat ini muncul tren baru di dunia kerja yaitu 'quiet quitting'. Istilah ini berarti seseorang mengambil jarak dengan pekerjaannya dan memberikan prioritas lebih banyak pada kehidupan pribadi. Orang ini hanya mengerjakan apa yang ditugaskan, menyelesaikannya tepat waktu, dan tidak menerima lembur.

Tren ini menjadi pilihan bagi para pekerja yang merasa jenuh dengan lingkungan kerjanya tetapi enggan untuk berhenti kerja. Ada berbagai macam pandangan yang berbeda tentang quiet quitting, seperti berikut:

1. Quiet Quitting untuk Mental Health

Nessa, seorang pegawai yang sudah bekerja selama 5 tahun di salah satu perkantoran di Jakarta Pusat mengaku melakukan 'kerja seperlunya' untuk menjaga kondisi mentalnya.

"Kalo gue kerja seperlunya, maksudnya gue melakukan pekerjaan gue dengan penuh tanggung jawab tapi hanya sebatas ketika jam kerja. Lebih dari jam atau hari kerja, ya gue fokus sama diri gue. Work-life balance haruslah untuk kesehatan gue juga," ujarnya kepada detikcom, Jumat (2/9/2022).

Wanita 27 tahun ini mengaku dulunya adalah 'penggila' kerja tapi seiring berjalannya waktu, ia sadar hal itu tidak baik untuk dirinya di masa depan. Akhirnya ia memutuskan untuk membatasi dirinya dengan pekerjaan.

"Jujur gue dulu pernah hustle culture tapi karena gue takut banget kena tegur dan menurut gue saat itu, gue udah keterima kerja jadi gue harus lakuin yang terbaik. Tapi ternyata justru gue ngerasa toxic sama diri gue sendiri, di saat tubuh gue pengen istirahat, gue maksa untuk tetep kerja," ungkapnya.

"Sampai suatu titik gue sadar, gue terlalu fokus sama pekerjaan gue dan itu nggak bagus buat mental gue kalo tetep dilakuin. Jadi gue mencoba membatasi pekerjaan-pekerjaan gue dan beberapa kali lebih fokus sama keinginan gue. Ya hasilnya, gue jalanin hidup lebih ringan dan happy dari sebelumnya,"

2. Quiet Quitting dengan 'Mencuri' Waktu Kerja

Ghenes menjadi salah satu orang yang mengaku melakukan quiet quitting dengan mengulur waktu kerja agar tidak menerima pekerjaan yang lebih banyak.

"Kalo gue kan udah tau nih kapan aja gue diberikan yang tergolong berat, banyak, dan kejar tayang banget tuh jadi harus cepet-cepet, itu biasanya di hari pas gue senggang, gue lama-lamain kerjaan gue. Jadi gue bisa istirahat nutup rasa capek gue pas kejar tayang itu," katanya kepada detikcom, Kamis (1/9/2022).

Meski begitu, ia tetap melakukan pekerjaan yang diberikan untuk mencapai target tertentu dan menganggap dirinya memiliki tanggung jawab yang besar atas pekerjaan tersebut. Hal ini membuatnya 'curi-curi' waktu kerja dengan dengerin lagu atau nonton film.

"Jadi menurut gue karena gue punya tanggung jawab yang besar sama pekerjaan ini, gue curi-curi waktu dengan nonton film atau dengerin lagu itu udah sangat membantu gue dari beban pekerjaan gue sih," ucapnya.

Wanita 22 tahun ini mengaku tidak bisa meninggalkan pekerjaan tersebut karena dirinya akan merasa tidak tenang jika pekerjaan yang dimiliki belum seutuhnya selesai.

"Kenapa gue lebih milih untuk tetep ngelakuin pekerjaan gue daripada gue me time itu karena gue tipikal orang yang kalau pekerjaan belum kelar itu ketar-ketir walaupun emang gue pengen tenang," jelasnya.

NEXT: Ambil cuti lalu berlibur

Selanjutnya
Halaman
1 2 3

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT